Bermula ketika suatu hari tanggal 27 Januari 2008, bertepatan dengan hari wafatnya Pak Harto. Pagi hari saya menghadiri acara gebyar muharram di sekolah SDIT anak saya. Direncanakan sore harinya akan mengikuti aksi demo untuk Palestina di Monas yang akan dimulai jam 13.00. Rencana semula saya hendak berangkat ke Monas bersama rombongan naik bis. Namun, tepat jam 11.00, pada saat acara gebyar muharram berlangsung, saya makan rambutan yang disediakan panitia. "wah kalau jualan rambutan di Monas pasti laku nih" pikir saya dalam hati tiba-tiba. Ketika ide ini saya lontarkan ke teman-teman yang hadir, mereka cuma senyam-senyum saja, entah apa artinya. Begitu juga ketika saya sampaikan ke istri, dia setengah tidak percaya, masa jualan rambutan? sempat muncul keraguan dalam diri saya
Singkat cerita, akhirnya saya ajak istri untuk cari rambutan yang memang banyak di daerah sini. Dari beberapa penjual rambutan yang ada disepanjang jalan cileungsi-Jonggol, kita tertarik dengan salah satunya yang memiliki rambutan cukup banyak. Setelah tawar menawar akhirnya kita beli sebanyak 200 ikat rambutan seharga 250 rb. Rambutan sebanyak itu cukup untuk memenuhi bagian belakang mobil Futura saya. Kemudian kami mampir dulu ke rumah sebentar untuk mengantarkan anak pulang dan mengambil barang-barang yang bisa dijadikan untuk jualan al: tikar, keranjang yang selama ini dipakai buat pakaian, tempat mainan anak2, dan koran.
Maka berangkatlah kita ke Monas. Sampai di Cileungsi sudah masuk waktu sholat dhuhur. Rombongan bis sudah berangkat duluan. Kita berhenti dulu di masjid untuk sholat dhuhur. Kemudian kita lanjutkan perjalanan menuju Monas. Sepanjang perjalanan berbagai pikiran dan perasaan muncul, ragu-ragu, malu, nanti disananya gimana, tempatnya gimana, bawanya gimana, dll. Namun satu hal yang menguatkan saya bahwa resiko terjeleknya adalah saya kehilangan uang 250 rb dan rambutan bisa dibagi-bagi ke tetangga.
Sampai di Monas jam 13.30, belum terlalu terlambat, banyak peserta yang juga baru datang. Saya cari tempat parkir yang sedekat mungkin dengan pintu gerbang. Kita sudah sepakat untuk turun dulu dan bersama-sama mencari lokasi jualan sambil membawa tikar. Setelah lokasi yang menurut kita cukup baik ditemukan, saya kembali ke mobil untuk mengambil rambutan.
Perjuangan dimulai. Beberapa ikat rambutan saya masukin ke keranjang pakaian. Ternyata keranjang pakaian tersebut hanya muat untuk 20 ikat rambutan, sedangkan total rambutan yang ada 200 ikat. Kita sebelumnya samasekali tidak memperhitungkan hal ini. Terbayang dibenak saya bahwa saya harus bolak-balik sebanyak 10 kali menempuh jarak sekitar 300 meter dengan membawa sekeranjang rambutan.
Saya coba dulu. Keranjang rambutan saya taruh di atas kepala, sementara kedua tangan memegangi. Dengan mengikuti arus manusia yang baru saja berdatangan, saya berjalan degan satu keranjang rambutan di atas kepala. Sampai di lokasi, istri sudah menunggu dengan tikar masih dipegangi. Melihat saya datang, dia segera menggelar tikarnya. Bruuk!! saya tumpahakan seluruh isinya di atas tikar dengan cepat karena tak kuat menahan pegal di leher dan di pinggang. Saya pikir mungkin posisinya salah, lebih baik saya taruh keranjang rambutan di pundak. Saya coba lagi untuk keranjang yang kedua. Hasilnya sama aja, pegel, dan tidak mungkin saya lakukan ini untuk 8 keranjang lagi yang tersisa. Mustahil.
Disamping tempat kita jualan, ada orang jualan buku dan saya lihat dia mempunyai dorongan beroda (lori) yang dapat digunakan untuk mengangkut rambutan. Akhirnya saya pinjam. Saya pikir dengan ini akan banyak membantu. Saya membawa rambutan dengan cara menarik lori sementara satu keranjang rambutan ada di atasnya, persis kayak topeng monyet. Dengan loripun ternyata tidak menyelesaikan masalah pegel di pinggang. Di pertengahan jalan keranjang tumpah, sebagian rambutan terhambur ke jalan. Orang-orang yang baru datang sebagian memperhatikan. Ada salah satunya, yang mungkin karena kasihan, ikut memunguti rambutan yang tumpah tersebut.
Keranjang ketiga akhirnya sampai juga di lokasi. Saya lihat rambutannya sudah banyak berkurang. Ternyata istri saya, yang seorang PNS guru, sudah berhasil menjual sebagian dagangannya.
Dengan cepat saya kembali sambil membawa lori dan keranjang untuk mengambil rambutan keranjang ke-4. Namun di tengah jalan saya berpikir, tidak mungkin saya lakukan dengan cara seperti ini sampai keranjang yang ke-10. Panas, pegel, capai, berkeringat, lemes, begitulah rasanya setelah menyelesaikan 3 keranjang.
Di gerbang keluar, saya tanya kepada satpam penjaga. "Maaf Pak, bisa nggak saya bawa mobil ke dalam? Saya bawa barang". "Waduh...! Berat Pak Tanggung jawabnya, kita nggak berani," jawabnya. Putus lah harapan. "Ya udah nggak apa-apa kalau begitu." Jawab saya polos.
Saya berjalan menuju mobil dengan keranjang dan lori. Sampai di dalam mobil saya berfikir, tidak mungkin saya menyelesaikan ini semua. Saya coba hubungi teman-teman untuk minta bantuan, tetapi HP tidak diangkat, mungkin sudah tenggelam dalam keramaian demonstrasi. Sementara HP berbunyi, ada sms masuk dari istri, " cepetan yah, rambutannya sudah mau habis".
Saya merenung sejenak. Akhirnya saya dapat ide. Saya kembali ke satpam. "Pak, kalo bapak merasa berat, gini aja deh, Sebelum mobil saya masuk, Bapak periksa dulu mobil saya, takut ada apa-apanya, nanti ada lah uang buang jasa periksanya". Kata saya. "Maaf, gimana pak, saya kurang jelas", Jawab satpam. Saya ulangi lagi kalimat saya. Pak satpam langsung menyahut, "Boleh-boleh Pak, silahkan pak, boleh", Legaaa rasanya, ternyata cuma itu kuncinya.
Singkat cerita, tepat pada pukul 15.00, seluruh rambutan terjual habis. senang sekali rasanya bisa menjual dengan keuntungan 100% dari modal. Inilah pengalaman pertama ngelapak di tempat umum.
(Bersambung)
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment