Sunday, June 28, 2009

Coba gunakan label

postingan ini untuk mencoba label: Contoh

Thursday, April 30, 2009

Nama Selanhit, hidup Nyelekit , Gara-gara Hutang.

Berikut ini adalah diskusi di milis TDA yang saya rangkum tentang Hutang.

 

Dear TDAers,

Kita semua pernah mendengar bunyi pepatah orang Amrik: "Your good name is your reputation" nama baik anda adalah reputasi anda. Oleh karena itu kita wajib menjaga nama baik kita dalam semua aspek kehidupan termasuk pinjaman modal untuk memulai usaha.

Sekarang ini banyak sekali orang memulai usaha dengan berhutang, berhutang memerlukan kecerdasan financial sewaktu mengelola hutangnya, sehingga hutang yang dipinjam dapat kembali sesuai jadwal yang direncanakan. Namun karena satu ajaran yang keliru bahwa "banyak hutang itu mulia", "hutang bank dibayar oleh bank", sehingga pada awal berbisnis namanya mulai meroket... 1 kios menjadi 2 kios...menjadi 3 kios..terus sampai sekarang sudah 6 kios.... tapi sejalan dengan itu hutang juga membesar...

Omzet penjualan sudah mencapai milyaran rupiah... namun tetap posisi hutang masih lebih besar daripada income, diluar sana nama sudah hebat.. tapi didalam perusahaan masih banyak yang perlu ditata dan ditata ulang terutama menyangkut pengelolaan hutang perusahaan. Untuk kasus seperti ini maka saya rasa perlu bantuan konsultan perencanaan keuangan perusahaan.

Melihat fenomena ini, banyak penusaha TDA yang namanya selangit, hidupnya masih nyelekit. Hindari manfaat hutang seminimal mungkin, sebisa mungkin memulai usaha jangan berhutang kalau tidak yakin benar bahwa hutang itu bakalan produktif dan akan menghasilkan lebih banyak uang. Jangan menggali lonag...kemudian gali lagi lobang yang lebih besar... ini boleh dilakukan untuk memperbesar kapasitas produksi.

Nama selangit, hidup nyelekit, mana ada yang mauuuuu???

Salam penuh sukses, penuh berkah,
FMN.
Hp. 0812 110 23 28

 

dear om fadel.. tulisan yg penuh pelajaran..

jangankan yg hutang ke bank, yg model bagi hasil spt saya aja berasa nyesek
di dada klo profit gw sesuai estimasi..

rasanya pgn saya balikin dana investor itu seandainya saya ada dana nya..

apalagi yg modalnya utang ke bank ya? argo kan jalan terus?

krisis akhir2 ini memang banyak pelajaran berharga untuk kita2 ini..
ternyata butuh pondasi yg kuat untuk bisnis yg tahan banting di era krisis.

alhamdulillah warnet2 kami bertahan, sementara yg lain bertumbangan (krn
model hutang mungkin spt pak fadel bilang)
alhamdulillah ISP kami juga bertahan, sementara yg lain bertumbangan juga..

setelah saya perhatikan, perusahaan2 yg kuat itu ternyata di mulai nya dari
nol.
berdasarkan inspirasi itu, kini perusahaan kami memiliki jargon internal
"Back to Basic"..
memulai efisiensi, kemudian para owner turun kembali ke jalan..
dan proses ini benar2 kami nikmati.. luar biasa rasanya

kebetulan kemarin ikut bang jay yg berdiskusi tentang Sekolah Monyet nya.
teman diskusi nya (hehehe disebut namanya ga bos?) punya konsep lain ttg
pelatihan kewirausahaan yg menyertakan lembaga keuangan untuk pemodalan
untuk pebisnis baru.

Saya dan bang jay ga setuju, klo mau mulai bisnis ya harus modal sendiri. ga
ada modal? jual hp, tv, dll bisa dijadiin alternatif.

uangnya terlalu sedikit? ya memang cuma sgitu kemampuan kita.. ga usah
maksa2..
insya allah sudah cukup untuk menjadi milyarder dalam paling tidak 7thn
perjalanan bisnis..

trima kasih om fadel atas sharingnya

 

Adzan Wahyu

 

saya pernah mengalami hal yang sama pak, hanya dalam waktu 1 tahun saya dapat melipatgandakan dari 1 menjadi 3 kios bahkan 4 kios. Pada saat itu ada temen yang mengingatkan bahwa sebagai pengusaha pemula kita harus hati-hati, bisa "over heating". mendengar itu saya tidak terlalu menggubrisnya, karena saya merasa enjoy dengan kios-kios baru saya yang didirikan hasil hutang. Namun, beberapa bulan kemudian hal ini terbukti benar....perlahan saya menutup kembali beberapa kios yang pernah saya buka karena tidak sesuai dengan harapan. dan sekarang cuma meninggalkan satu kios "yang paling tua".
Setelah saya konsultasi dengan para pengusaha yang sudah lebih berpengalaman, ternyata prosesnya memang begitu, setiap pengusaha hampir pasti mengalami kemunduran setelah maju sangat pesat dengan membuka beberapa kios. sepertinya hal ini alamiah.
Sekarangpun saya sedang coolingdown, memberesi sisa hutang yang tersisa. Tapi semua ini merupakan pelajaran berharga buat saya, berbisnis butuh kesabaran, kehati-hatian, perhatian penuh dan kontrol terhadap keuangan dan karyawan, disamping tentu saja harus tepat dalam pemilihan lokasi usaha dan strategi dagang.

Hutang tetap mulia, sepanjang dikelola dengan baik dan benar, sesuai dengan peruntukannya. Terkadang kita melakukan mark-up ketika mengajukan pinjaman, padahal cara tersebut tidak sehat buat keuangan perusahaan kita.
Saya tidak phobi dengan usaha hasil hutang, karena saya-pun memulai usaha 100% modal pinjaman dan sukses...tapi seiring dengan perkembangan usaha, fokus dan kontrol terhadap perusahaan melemah dan terbagi....
So....kesimpulannya .....dalam setiap pengembangan usaha....berikan fokus dan kontrol thd cabang baru sama dengan atau lebih besar dibanding fokus kita pada usaha sebelumnya.

Salam sukses

 

Ade Hidayat

 

Saya jadi ingat perkataan rekan saya yang pengusaha IT.

Teamnya semula berjumlah 30 orang, tapi karena perkkembangan yang pesat beliau menambah teamnya hingga mencapai ratusan orang.

End result :
Omzet meningkat, sebanding dengan tingkat kerumitan manajemennya akan tetapi secara profit relatif sama dengan keuntungan team dia yang 30 orang itu, kenaikannya tidak terlalu signifikan.

Profit is King says Mr. Brad.
Menjadi besar itu belum tentu menjadi lebih baik..

 

Y. Gautomo



Importing contacts has never been easier..
Bring your friends over to Yahoo! Mail today!

Tips penghasilan satu milyar per bulan (Sedekah, Orang tua, berbuat baik, wanita)



Assalamualaikum Wr wb

Baru dapat email dari temans yang begitu menyentak kesadaran dan kedirian kita sebagai manusia. Isinya juga selaras banget dengan semangat TDA.

Insya Allah bermanfaat.


Jangan berani atau menghardik orangtuan khususnya IBU dan tetaplah bersedekah dg ikhlas.

Di Fwd dari salah satu discussion board facebook;

Berkat rahmat Allah Yang Mahakuasa, saya dipertemukan dengan hamba-Nya yang satu ini. Beliau adalah seorang leader yang selalu mengayomi, memberikan bimbingan, semangat, inspirasi, ide dan gagasan segar. Beliau seorang pemimpin yang mampu menggerakkan ratusan hingga ribuan anak buahnya. Beliau seorang guru yang memiliki lautan ilmu, yang selalu siap ditimba oleh anak-anaknya dan bagai tiada pernah habis.

Saat ini beliau memiliki berbagai macam bidang usaha, di antaranya sebagai supplier dan distribusi alat dan produk kesehatan, puluhan hektar tambak, puluhan hektar ladang, berpuluh rumah kos, ruko, stand penjualan di mall, apartemen dan lain-lain. Pernah saya mencoba menghitung, penghasilan beliau bisa mencapai Rp 1 Milyar per bulannya. Sebuah pencapaian luar biasa bagi saya dan kebanyakan orang lain.

Pertemuan antara saya dan beliau yang saya ceritakan di bawah ini terjadi beberapa tahun yang lalu, di saat penghasilan beliau masih berkisar Rp 200 juta per bulan. Bagi saya, angka ini pun sudah bukan main dahsyatnya. Sengaja saya tidak menyebutkan namanya, karena cerita ini saya publish belum mendapatkan ijin dari beliau. Kita ambil wisdomnya saja ya.

Suatu hari, terjadilah dialog antara saya dengan beliau di serambi sebuah hotel di Bandung . Saya ingat, beliau berpesan bahwa beliau senang ditanya. Kalau ditanya, maka akan dijelaskan panjang lebar. Tapi kalau kita diam, maka beliau pun akan "tidur". Jadilah saya berpikir untuk selalu mengajaknya ngobrol. Bertanya apa saja yang bisa saya tanyakan.

Sampai akhirnya saya bertanya secara asal, "Pak, Anda saat ini kan bisa dibilang sukses. Paling tidak, lebih sukses daripada orang lain. Lalu menurut Anda, apa yang menjadi rahasia kesuksesan Anda?"

Tak dinyana beliau menjawab pertanyaan ini dengan serius.

" Ada empat hal yang harus Anda perhatikan," begitu beliau memulai penjelasannya.

RAHASIA PERTAMA

"Pertama. Jangan lupakan orang tuamu, khususnya ibumu. Karena ibu adalah orang yang melahirkan kita ke muka bumi ini. Mulai dari mengandung 9 bulan lebih, itu sangat berat. Ibu melahirkan kita dengan susah payah, sakit sekali, nyawa taruhannya. Surga di bawah telapak kaki ibu. Ibu bagaikan pengeran katon (Tuhan yang kelihatan).

Banyak orang sekarang yang salah. Para guru dan kyai dicium tangannya, sementara kepada ibunya tidak pernah. Para guru dan kyai dipuja dan dielukan, diberi sumbangan materi jutaan rupiah, dibuatkan rumah; namun ibunya sendiri di rumah dibiarkan atau diberi materi tapi sedikit sekali. Banyak orang yang memberangkatkan haji guru atau kyainya, padahal ibunya sendiri belum dihajikan. Itu terbalik.

Pesan Nabi : Ibumu, ibumu, ibumu... baru kemudian ayahmu dan gurumu.
Ridho Allah tergantung pada ridho kedua orang tua. Kumpulkan seribu ulama untuk berdoa. Maka doa ibumu jauh lebih mustajabah."

Beliau mengambil napas sejenak.

RAHASIA KEDUA

"Kemudian yang kedua," beliau melanjutkan. "Banyaklah memberi. Banyaklah bersedekah. Allah berjanji membalas setiap uang yang kita keluarkan itu dengan berlipat ganda. Sedekah mampu mengalahkan angin. Sedekah bisa mengalahkan besi. Sedekah membersihkan harta dan hati kita. Sedekah melepaskan kita dari marabahaya. Allah mungkin membalas sedekah kita dengan rejeki yang banyak, kesehatan, terhindarkan kita dari bahaya, keluarga yang baik, ilmu, kesempatan, dan lain-lain.

Jangan sepelekan bila ada pengemis datang meminta-minta kepadamu. Karena saat itulah sebenarnya Anda dibukakan pintu rejeki. Beri pengemis itu dengan pemberian yang baik dan sikap yang baik. Kalau punya uang kertas, lebih baik memberinya dengan uang kertas, bukan uang logam. Pilihkan lembar uang kertas yang masih bagus, bukan yang sudah lecek. Pegang dengan dua tangan, lalu ulurkan dengan sikap hormat kalau perlu sambil menunduk (menghormat) . Pengemis yang Anda beri dengan cara seperti itu, akan terketuk hatinya, 'Belum pernah ada orang yang memberi dan menghargaiku seperti ini.' Maka terucap atau tidak, dia akan mendoakan Anda dengan kelimpahan rejeki, kesehatan dan kebahagiaan.

Banyak orang yang keliru dengan menolak pengemis yang mendatanginya, bahkan ada pula yang menghardiknya. Perbuatan itu sama saja dengan menutup pintu rejekinya sendiri.

Dalam kesempatan lain, ketika saya berjalan-jalan dengan beliau, beliau jelas mempraktekkan apa yang diucapkannya itu. Memberi pengemis dengan selembar uang ribuan yang masih bagus dan memberikannya dengan dua tangan sambil sedikit membungkuk hormat. Saya lihat pengemis itu memang berbinar dan betapa berterima kasihnya.

RAHASIA KETIGA

"Allah berjanji memberikan rejeki kepada kita dari jalan yang tidak disangka-sangka, " begitu beliau mengawali penjelasannya untuk rahasia ketiganya. "Tapi sedikit orang yang tahu, bagaimana caranya supaya itu cepat terjadi? Kebanyakan orang hanya menunggu. Padahal itu ada jalannya."

"Benar di Al Quran ada satu ayat yang kira-kira artinya : Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya diadakan-Nya jalan keluar baginya dan memberinya rejeki dari jalan/pintu yang tidak diduga-duga" , saya menimpali (QS Ath Thalaq 2-3).

"Nah, ingin tahu caranya bagaimana agar kita mendapatkan rejeki yang tidak diduga-duga? ," tanya beliau.

"Ya, bagaimana caranya?" jawab saya. Saya pikir cukup dengan bertaqwa, menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, maka Allah akan mengirim rejeki itu datang untuk kita.

"Banyaklah menolong orang. Kalau ada orang yang butuh pertolongan, kalau ketemu orang yang kesulitan, langsung Anda bantu!" jawaban beliau ini membuat saya berpikir keras. "Saat seperti itulah, Anda menjadi rejeki yang tidak disangka-sangka bagi orang itu. Maka tentu balasannya adalah Allah akan memberikan kepadamu rejeki yang tidak disangka-sangka pula."

"Walau pun itu orang kaya?" tanya saya.

"Ya, walau itu orang kaya, suatu saat dia pun butuh bantuan. Mungkin dompetnya hilang, mungkin ban mobilnya bocor, atau apa saja. Maka jika Anda temui itu dan Anda bisa menolongnya, segera bantulah."

"Walau itu orang yang berpura-pura? Sekarang kan banyak orang jalan kaki, datang ke rumah kita, pura-pura minta sumbangan rumah ibadah, atau pura-pura belum makan, tapi ternyata cuma bohongan. Sumbangan yang katanya untuk rumah ibadah, sebenarnya dia makan sendiri," saya bertanya lagi.

"Ya walau orang itu cuma berpura-pura seperti itu," jawab beliau. "Kalau Anda tanya, sebenarnya dia pun tidak suka melakukan kebohongan itu. Dia itu sudah frustasi karena tidak bisa bekerja atau tidak punya pekerjaan yang benar. Dia itu butuh makan, namun sudah buntu pikirannya. Akhirnya itulah yang bisa dia lakukan. Soal itu nanti, serahkan pada Allah. Allah yang menghakimi perbuatannya, dan Allah yang membalas niat dan pemberian Anda."

RAHASIA KEEMPAT

Wah, makin menarik, nih. Saya manggut-manggut. Sebenarnya saya tidak menyangka kalau pertanyaan asal-asalan saya tadi berbuah jawaban yang begitu serius dan panjang. Sekarang tinggal satu rahasia lagi, dari empat rahasia seperti yang dikatakan beliau sebelumnya.

"Yang keempat nih, Mas," beliau memulai. "Jangan mempermainkan wanita".

Hm... ini membuat saya berpikir keras. Apa maksudnya. Apakah kita membuat janji dengan teman wanita, lalu tidak kita tepati? Atau jangan biarkan wanita menunggu? Seperti di film-film saja.

"Maksudnya begini. Anda kan punya istri, atau suami. Itu adalah pasangan hidup Anda, baik di saat susah maupun senang. Ketika Anda pergi meninggalkan rumah untuk mencari nafkah, dia di rumah menunggu dan berdoa untuk keselamatan dan kesuksesan Anda. Dia ikut besama Anda di kala Anda susah, penghasilan yang pas-pasan, makan dan pakaian seadanya, dia mendampingi Anda dan mendukung segala usaha Anda untuk berhasil."

"Lalu?" saya tak sabar untuk tahu kelanjutan maksudnya.

"Banyak orang yang kemudian ketika sukses, uangnya banyak, punya jabatan, lalu menikah lagi. Atau mulai bermain wanita (atau bermain pria, bagi yang perempuan). Baik menikah lagi secara terang-terangan, apalagi diam-diam, itu menyakiti hati pasangan hidup Anda. Ingat, pasangan hidup yang dulu mendampingi Anda di kala susah, mendukung dan berdoa untuk kesuksesan Anda. Namun ketika Anda mendapatkan sukses itu, Anda meninggalkannya. Atau Anda menduakannya. "

Oh... pelajaran monogami nih, pikir saya dalam hati.

"Banyak orang yang lupa hal itu. Begitu sudah jadi orang besar, uangnya banyak, lalu cari istri lagi. Menikah lagi. Rumah tangganya jadi kacau. Ketika merasa ditinggalkan, pasangan hidupnya menjadi tidak rela. Akhirnya uangnya habis untuk biaya sana-sini. Banyak orang yang jatuh karena hal seperti ini. Dia lupa bahwa pasangan hidupnya itu sebenarnya ikut punya andil dalam kesuksesan dirinya," beliau melanjutkan.

Hal ini saya buktikan sendiri, setiap saya datang ke rumahnya yang di Waru Sidoarjo, saya menjumpai beliau punya 1 istri, 2 anak laki-laki dan 1 anak perempuan.

Perbincangan ini ditutup ketika kemudian ada tamu yang datang....

KEDAHSYATAN SEDEKAH

Sedekah adalah penolak bala, penyubur pahala, dan melipatgandakan rezeki; sebutir benih menumbuhkan tujuh bulir, yang pada tiap-tiap bulir itu terjurai seratus biji. Artinya, Allah yang Mahakaya akan membalasnya hingga tujuh ratus kali lipat. Masya Allah!

Sahabat, betapa dahsyatnya sedekah yang dikeluarkan di jalan Allah yang disertai dengan hati ikhlas, sampai-sampai Rasul sendiri membuat perbandingan. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, Rasulullah SAW bersabda, "Allah SWT menciptakan bumi, maka bumi pun bergetar. Lalu Allah pun menciptakan gunung dengan kekuatan yang telah diberikan kepadanya, ternyata bumi pun terdiam. Para malaikat terheran-heran akan penciptaan gunung tersebut.

Kemudian mereka bertanya, 'Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada gunung?'.

Allah menjawab, ' Ada , yaitu besi'.

Para malaikat pun kembali bertanya, 'Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari besi?'.

Allah menjawab, ' Ada , yaitu api'.

Bertanya kembali para malaikat, 'Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari api?'.

Allah menjawab, ' Ada , yaitu air'.

'Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari air?' tanya para malaikat.

Allah pun menjawab, ' Ada , yaitu angin'.

Akhirnya para malaikat bertanya lagi, 'Ya Allah adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih dari semua itu?'.

Allah yang Mahakaya menjawab, ' Ada , yaitu amal anak Adam yang mengeluarkan sedekah dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya tidak mengetahuinya' ."

Subhanallah. ...

Salam Funtastic

Hari Dewanto

Buitenzorg City



Get your new Email address!
Grab the Email name you've always wanted before someone else does!

Friday, April 17, 2009

Kebijaksanaan Bertindak


Assalamu'alaikum wr. wb.


Seperti biasa secara rutin, sebuah sms yang menyejukkan datang suatu hari
dari guru spiritual saya, pak Yusef Hilmy.

"Kebijaksanaan adalah tahu apa yang harus dilakukan. Keterampilan adalah
tahu bagaimana melakukan. Dan kebajikan adalah melakukannya. Praktekkan
kebiasaan bertindak, karena tindakan yang paling sederhana selalu lebih baik
daripada niat yang paling hebat".

Sekali lagi beliau mengingatkan kembali mengenai pentingnya bertindak,
pentingnya mengambil action. Mungkin juga sebagai pengingat dari beliau
untuk saya bahwa segala tindakan saya ternyata belum sepenuhnya yang
terbaik. Memang :).

Banyak dari kita dengan mudah mengatakan 'saya sudah melakukan yang terbaik'
ketika mengalami kegagalan atau menghadapi hambatan. Sama halnya ketika kita
melihat di TV seorang artis mengatakan 'mungkin ini yang terbaik bagi kami'
ketika menghadapi kasus perceraian.

Terlepas dari bahwa jika itu memang kondisi sebenarnya namun apakah memang
benar demikian adanya ?. Apakah kita memang benar2 telah melakukan yang
terbaik ? Apakah itu benar2 sudah paling maksimal yang kita lakukan, udah
pol abis gitu loch. :)

Yang dikhawatirkan, itu hanyalah alasan semata karena kemalasan kita
melanjutkan action lanjutan demi perbaikan. Kekurang persisten dan
konsistenan kita. Sebuah tameng excuse bahwa sebenarnya yang kita angggap
tindakan terbaik ternyata hanya standar.

Hasil survey dan pengalaman mengatakan, biasanya penjualan closing pada
penawaran ke 5. Dan selama ini sepertinya kita sudah akan berhenti di
kesempatan ke 3 atau bahkan pertama kali ketika terjadi penolakan.

Dari 100 brosur yang kita sebar, prosentase ditanggapi adalah 5% nya saja.
Itupun belum tentu terjadi transaksi. Apakah kita menganggap 100 angka yang
besar ? Atau jangan2 kekecilan dan seharusnya kita menyebarkan 10.000
brosur.

'Telah melakukan yang terbaik' memang akhirnya menjadi sangat relatif. Si
Budi menganggap membuat online store, iklan tiap Senin, nyebar ratusan
brosur dengan desain super menarik, baca buku dan mengikuti seminar motivasi
... adalah yang paling terbaik yang telah dilakukan, tapi mungkin bagi si
Basri belum.

Lalu sampai dimana donk batas 'telah melakukan yang terbaik' itu ? Ya,
mungkin memang bisa kita anggap tidak ada atau gak perlu kita ucapkan karena
kita akan selalu dituntut untuk terus melakukan tindakan, walau mungkin
terlihat kecil dan remeh di mata orang lain. Continuous action.

Karena tindakan yang paling sederhana selalu lebih baik daripada niat yang
paling hebat.

Terima kasih pak Yusef, saya akan selalu mengingatnya.

Wassalam.

-Eko June-
www.ekojune. blogspot. com




Get back in touch.
Connect with your friends from Hotmail & Gmail today!

Monday, March 30, 2009

Surat untuk Saudaraku

   Latar belakang:

Ada seorang pembaca blog saya, yang menyampaikan email tentang kefrustasian yang dia alami. Dia adalah seorang yg baru memeluk agama yg saya anut, yang usaha nya saat ini belum berjalan dengan baik, dan mulai kembali mempertanyakan keadilan Tuhan.

Posting ini, adalah reply yg saya sampaikan kepadanya, sudah saya edit supaya netral dan bisa dibaca semua khalayak.

Salam,

--
Fauzi Rachmanto

http://fauzirachman to.blogspot. com
http://www.facebook .com/people/ Fauzi-Rachmanto/ 725399728

============ =========

Saudaraku ...

Saya dapat memahami perasaan Anda. Sesungguhnya bukan hanya Anda, saya pun dahulu juga telah mengalami ujian yang sama. Berusaha dan belum berhasil, tidak punya uang, justru banyak hutang, sudah saya alami.

Padahal sudah membuat daftar impian, tujuan yang pasti, sudah membuat strategi, sudah berani mengambil tindakan … Nekat malah, karena saya melepas pekerjaan saya demi bisnis. Bukan keberhasilan yang diraih, namun justru kesulitan demi kesulitan. Pada waktu itu pun, saya merasakan rasa frustasi yang luar biasa.

Saudaraku …

Pertama-tama harus kita pahami tentang sunatullah, ketetapan Allah yang berlaku sebagai hukum yang berjalan di alam semesta ciptaanNya ini. Ketetapan ini berlaku tanpa memandang siapa pun pelaku nya. Misalnya: hukum grafitasi. Benda apapun, jika dilepaskan akan jatuh ke permukaan bumi. Siapapun yang menjatuhkan benda itu, apapun agama nya, bahkan atheis sekalipun, benda tadi akan jatuh ke permukaan bumi. Karena demikianlah sunatullah nya.

Sunatullah yang lain adalah, siapa yang ingin berhasil dan berupaya dengan sungguh-sungguh untuk mencapai nya, maka atas seizin Allah, keinginannya akan tercapai. Siapapun orangnya, apakah itu muslim, non-muslim, bahkan atheis sekalipun. Karena ini sudah merupakan sunatullah, sebagaimana hukum grafitasi. Maka saya tidaklah heran dengan keberhasilan Bill Gates ataupun Donald Trump, karena mereka memang melakukan usaha dengan sungguh-sungguh.

Lantas, mengapa ada orang yang sudah berusaha namun belum berhasil? Jika keberhasilan, sebagaimana grafitasi adalah sunatullah? Mengapa ini bisa terjadi? Pertanyaan nya adalah, betulkan ia sudah berusaha sesuai dengan cara-cara yang dilakukan orang yang berhasil? Jika belum, maka tentu saja dia masih belum akan mecapai keberhasilan. Sebagaimana kita melepas benda, namun benda tadi terikat dengan tali, maka hukum grafitasi bumi pun tidak bisa menarik benda tadi.

Lalu, bagaimanakah cara-cara orang yang berhasil itu? Keberhasilan orang-orang yang sukses dalam berbisnis itu meninggalkan jejak. Sehingga kita bisa mengikuti jejak-jejak tadi, untuk ikut mencapai kesuksesan.

Saudaraku, untuk memulai, sebagai tahap awal coba praktekkan beberapa sikap mental yang banyak kita temui pada orang-orang berhasil ini:

Ikhlas.

Orang yang berhasil, melakukan segala sesuatu dengan Ikhlas. Batin nya ikhlas, menerima apa yang telah Tuhan berikan untuk nya hari ini. Bahwa pasti ada kebaikan yang Tuhan semesta alam berikan hari ini. Sekalipun mungkin peristiwa hari ini "buruk" di mata kita. Karena buruk di mata kita, belum tentu buruk di mata Tuhan.

Alkisah, jaman dahulu kala, di sebuah kampung, ada seorang lelaki tua yang hidup dengan anak lelaki tunggalnya. Suatu ketika pemuda tadi jatuh dari kuda, dan kaki nya patah. "Malang benar nasib anakmu ..." Demikian kata orang kampung. Ternyata, keesokan hari nya, datanglah tentara kerajaan untuk mengajak seluruh pemuda yang sehat maju ke medan perang yang mengerikan, yang hampir dipastikan seluruh pemuda tadi akan pulang tinggal nama. Seluruh orang tua menangis meratapi nasib anaknya … Kecuali orang tua dari pemuda yang kaki nya patah tadi. Jadi sekarang siapa yang nasib nya malang?

"Kemalangan" ternyata hanyalah penilaian kita sebagai manusia yang lemah ini.

Jadi Saudaraku …. apakah hari ini usaha kita selalu gagal, banyak hutang, tidak punya uang? Saya yakin, pasti ada maksud baik Tuhan dari pengalaman kita hari ini.

Syukur.

Selain ikhlas, kita juga harus terima dan syukuri apa yang sudah kita alami dan miliki hari ini. Dan juga apa-apa yang sudah kita terima di masa lalu, dan apa yang akan kita terima besok.

Karena tidak ada guna nya batin kita menolak dan menyesali apa yang kita alami hari ini. Seringkali batin kita menjerit-jerit, "mengapa nasib ku seperti ini ….", namun hal ini malah akan memperkuat penderitaan kita. "What you resist persist ... "demikian pepatah kata. Makanya, orang yang mengeluhkan penderitaannya, biasanya penderitaanya semakin buruk. Yang mengeluhkan hutang, hutangnya makin banyak, yang mengeluhkan bisnisnya sepi, bisnisnya makin sepi, yang mengeluhkan tidak punya uang, uang nya makin sedikit.

Sebaliknya, orang yang bisa mensyukuri apa yang mereka terima hari ini, maka insyaAllah justru kenikmatan yang dia terima akan bertambah.

Jadi, saudaraku … Mulailah dengan mensyukuri apa yang saudaraku sudah miliki hari ini. Tidak hanya materi, namun juga kesehatan, cinta, pengetahuan, keluarga, dan sahabat. Banyak orang yang kaya materi namun tidak memiliki yang saya sebutkan tadi.

Lepaskan.

"Let it Go … Let it God". Kita diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Perkasa, Maha Kaya, Maha Bijaksana. Maka lepaskanlah kembali semuanya kepada Dia. Kembalikan semuanya kepada Dia. Biarkan Tuhan yang mengatur hidup kita ini.

Kadang kita merasa lebih tahu dan lebih pintar dari Tuhan. Bahwa hidup kita harus seperti yang kita "tentukan". Padahal Tuhan lah yang menentukan hidup kita.

Banyak kejadian sudah saya alami. Bahwa di satu titik kita menemui jalan buntu, ketika seluruh logika dan nalar tidak mampu lagi mencari penyelesaian, penyelesaian justru datang ketika kita pasrahkan kembali permasalahan kita kepada Allah.

Sedih karena ditolak calon pelanggan? Wajar, namun lepaskan kembali pada Tuhan, siapa tahu Yang Punya Hidup punya skenario lain, yaitu memberikan pelanggan yang lebih baik.

Amanah.

Amanah adalah selalu bisa dipercaya, menepati janji dan menunaikan tanggung-jawab. Seringkali kita tergoda untuk tidak amanah pada saat kita mengalami perjalanan hidup yang sulit.

Kepercayaan yang diberikan kepada kita, dengan mudahnya kita sia-sia kan, demi keuntungan sesaat. Seringkali demi uang yang jumlahnya tidak seberapa.

Kalau kita berhutang, maka kita wajib berusaha membayarnya. Dengan segala usaha yang kita mampu.

Saya juga pernah mengalami tidak mampu membayar hutang seperti saudara. Namun, saya berusaha dengan menemui pemberi hutang, dengan sikap yang baik, untuk membicarakan kembali jadwal pembayaran hutang saya.

Bahkan, saya juga pernah menawarkan barter, menukar hutang saya dengan keahlian yang saya miliki. Dan berhasil.

Yang penting adalah berusaha untuk amanah. Karena buah dari amanah, adalah nama baik dan kepercayaan, yang selama nya akan menjadi modal utama dalam bisnis kita. Donald Trump, misalnya, berhasil bangkit dari keterpurukan, karena nama baik nya dalam bisnis masih dipercaya investor.

Dan yang terakhir saudaraku, adalah ...

Memberi.

Berikanlah apa yang saudara sedang cari. Karena ia akan kembali dalam jumlah yang berlipat-lipat. Jika saudaraku mencari cinta, maka berikanlah cinta. Jika Anda mencari ilmu, berikanlah ilmu. Dan jika Anda mencari uang, berikanlah uang …

"Power of Giving" sudah dibuktikan oleh banyak orang. Dengan memberi, maka kita akan menerima. Bukan sebaliknya.

Maka, Bill Gates pun tidak ragu menyumbangkan lebih dari 28 milyar Dollar kekayaanya, dan apa yang terjadi? Bill Gates makin kaya, bukan tambah miskin.

Dua minggu lalu, saya mengalami sendiri hal ini. Saya memberikan sejumlah uang melalui transfer bank. Dan di tempat parkir mobil, masih di bank yang sama, saya menerima pemberitahuan dari staff saya lewat telephone kalau kami menerima order, senilai 100 kali lipat uang yang saya berikan. Kekuatan memberi benar-benar terbukti.

Demikian yang dapat saya bagikan saudaraku …

Sikap mental Ikhlas – Syukur – Lepaskan – Amanah - Memberi, ini telah menolong saya di masa-masa sulit dahulu, dam semoga bisa membantu Saudara mencapai apa yang dicita-citakan. Amin.

Salam,

Fauzi Rachmanto



Search. browse and book your hotels and flights through Yahoo! Travel

Thursday, March 19, 2009

Karena Semuanya Begitu Sederhana

Kesuksesan dalam terminology pengusaha seringkali bisa diartikan dengan

kepemilikan benda, tabungan dan asset – asset yang besar jumlahnya.,
atau pengembangan usahanya. Ada hal yang indah, yang begitu mengena
menyimak intisari dari apa yang disampaikan pembicara – pembicara di
Milad 3 TDA kemarin. Adalah Bob Sadino, maestro bisnis yang begitu
sukses tetapi pakaian favouritenya adalah hem dan celana pendek saja.
Adapula Lihan, seorang mantan pengajar Madrasah Aliyah yang suka
bersandal jepit, yang menjadi pengusaha kaya raya dengan nilau usaha
mencapai trilyunan, dan yang terakhir adalah Tung Desem Waringin yang
seorang Marketer kelas atas yang pernah menyebar uang jajan sebesar Rp
100.000.000, - secara Cuma – Cuma dari helicopter, yang sangat
menyukai kutipan Mark Joyner " The Immportant thing in business is
not Office, Mr. Hi-Tech or even the business or service, but an
offer".
Apa yang saya tangkap dari cara ketiga orang "sukses" itu
menyikapi kesuksesannya mengerucut pada satu hal yang ternyata sangat
menarik yaitu : kesederhanaan. Suatu waktu, Bob Sadino berujar bahwa
sukses baginya adalah bisa makan hari ini. Itu saja, sesimple itu.
Sementara Lihan, kita telah mendengarnya sendiri pengakuannya, beliau
tidak menyimpan asset. Untuk apa, katanya, toh asset dalam bentuk uang
maupun harta, akan segera habis kapanpun waktunya. Tidak menolong kita,
tidak pula dibawa mati. Sementara Tung Desem Waringin, begitu ringan
membawa marketing ke hadapan kita. Tidak ada satu hal yang begitu rumit
melihat cara TDW memandang marketing. Saya membayangkan, dalam
trainingnya, yang justru seringkali menarik audience adalah teriakan
"Ooooooooh…yesssssss !!!". Menurut anda, apakah itu istimewa
dan rumit?
Saya kemudian berfikir jika inilah yang membedakan mereka yang telah
sukses dengan orang kebanyakan. Daftar mimpi dan permasalahan orang bisa
saja terlalu panjang untuk diselesaikan, bahkan untuk dieksekusi.
Rasanya berat melangkahkan kaki keluar rumah, ketika berfikir di luar
sana akan panas, akan hujan, akan macet, akan bla bla bla bla……
Sementara bagi Bob Sadino, tidak ada hal yang ditakutinya karena yang
diingininya hanya bisa makan hari ini, kemudian bersyukur karena hal itu
dikategorikan "sukses" menurutnya. Bagi Lihan, harta yang
sedemikian banyak itu bahkan disikapinya dengan amat biasa. Saya begitu
trenyuh mendengar sandal jepitnya putus di sebuah hotel ketika bertemu
dengan Sandiaga S Uno. Begitu kecil dunia dan asset (baca:sukses)
dibanding kesederhanannya. Bagi TDW, memasarkan produk itu dilakoninya
dengan penuh kegembiraan dan kesenangan. Rasa – rasanya tidak ada
beban sedikitpun. Begitu simple caranya memikirkan pemasaran yaitu
dengan penawaran saja.
So, jika ingin seperti mereka, mungkin ada yang harus dirubah terkait
cara memandang kesuksesan. Dia amat sederhana, amat mudah ditemukan.
Seperti kita sukses melihat matahari di pagi yang terang dan cerah penuh
semangat, begitulah mungkin semestinya sukses bisnis itu dilihat. Begitu
mudah, alami, fun dan: sederhana.

Jadi, masih maukah anda "pusing dan ribet" dengan bagaimana
mencapai kesuksesan anda??? Bekerjalah, titik.

regards,

Lutfiel
http://speak2succes s.com
How much do you value your time?

YM : lelhakeem

__


New Email names for you!
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail.
Hurry before someone else does!

Pedagang vs Pengusaha

  Assalamu'alaikum wr. wb.


Sebuah tulisan menarik dari mas Donny Kris, komandan TDA Malang.
Di comot dari milis TDA Ngalam.

Wassalam.

-Sekretariat TDA-

Bila ada rekan yang berkunjung ke kantor, Saya paling sering mendapat
pertanyaan seperti ini :

"Mas Donny mulai berbisnis tahun berapa?". Entah kenapa ini adalah
pertanyaan favorit (mungkin ditanyakan karena usia saya masih muda kali
ya?), yang karena begitu favoritnya hingga saya kadang harus menjelaskan
panjang lebar.

Karena pertanyaan favorit (yang berulang-ulang) , sayapun sudah punya
'template' jawaban seperti ini:

'Saya memulai berbisnis (baca: jadi pengusaha) masih baru 3 tahun mas,
kira-kira tahun 2006-an'

Lalu pasti ada pertanyaan lagi seperti ini:
'Loh koq cepet banget mas perkembangan bisnisnya? hanya dalam waktu 3
tahun?'

Dan karena sudah ada template, maka saya lanjutkan dengan :
'Iya mas, masih 3 tahun menjadi pengusaha. Tapi sebelumnya saya sudah 6
tahun menjadi pedagang. Saya berdagang mulai tahun 2000-an mas'

Dan biasanya yang menanyakan pertanyaan favorit tadi ada sedikit rasa
kebingungan (biasanya saya amati dari perubahan bola matanya, atau
kerutan dahinya hehehe..).

Setelah itu, biasanya baru saya jelaskan panjang lebar...

Menurut saya (sekali lagi ini hanya menurut saya loh), untuk terjun ke
dunia bisnis sebaiknya kita perlu memahami kedua arti diatas : Pedagang
& Pengusaha. Suatu istilah yang mempunyai kemiripan, namun bagi saya
memiliki arti berbeda.

Di kampung halaman rumah ortu saya dahulu, ada seorang penjual sayuran
keliling yang telah 'berdagang' mulai saya TK hingga saya SMA. Berarti
kira-kira 14 tahun setiap hari dia keliling desa untuk menjajakan
sayurannya. Meskipun kebutuhan hidupnya tercukupi dengan menjual
sayuran, tapi tetap saja dia melakukan rutinitas (menjual sayuran) itu
hingga 14 tahun lamanya! Tidak ada peningkatan yang berarti dari tahun
ke tahun, karena mungkin saja dia (maaf) tidak memiliki visi yang cukup
bagus dalam 'bisnisnya'.

Pedagang, menurut saya adalah 'orang yang memperjualbelikan sesuatu
dengan tanpa visi jauh kedepan', atau bisa juga 'memperjualbelikan
sesuatu hanya berorientasi pada profit jangka pendek'. Mereka umumnya
berorientasi pada target jangka pendek. Misalnya, hanya sekedar
berdagang mencari untung, tanpa memperhatikan bagaimana target
pertumbuhan bisnisnya bulan depan atau tahun depan atau 5 tahun lagi,
atau bahkan jia dia meninggal apa bisnisnya masih bisa diwariskan atau
tidak.

Sedangkan Pengusaha, menurut saya adalah 'orang yang memperjualbelikan
sesuatu dengan visi jauh kedepan', atau bisa juga 'memperjualbelikan
sesuatu TIDAK hanya berorientasi pada profit jangka pendek'.

Jadi pembeda utama antara Pedagang vs Pengusaha terletak pada Misi Visi
bisnisnya.
Dan bukan terletak pada jenis bisnisnya.

Perhatikan contoh berikut ini:
Pak Arif dan Pak Aman sama-sama menjadi pengayuh becak 10 tahun yang lalu.
Setelah 3 tahun,
Pak Arif tetap mengayuh becak,
Pak Aman dari hasil kerjanya mulai membeli 1 becak lagi untuk disewakan.

Setelah 5 tahun,
Pak Arif tetap mengayuh becak,
Pak Aman menginvestasikan kembali hasil kerja plus hasil sewa becaknya
untuk membeli lebih banyak becak lagi, kini ia punya 10 becak yang
disewakan.

Setelah 10 tahun,
Pak Arif tetap mengayuh becak,
Pak Aman sudah tidak menjadi pengayuh becak karena ia bisa hidup dari
becak sewaanya...

Mana yang bermindset Pedagang, mana yang bermindset Pengusaha?

Ada contoh 1 lagi.
Cak Man dan Cak To adalah sama-sama penjual bakso di kota Malang sejak
15 tahun yang lalu.
Pada tahun ke-10,
Cak To tetap menjadi penjual bakso keliling,
Cak Man mulai merancang 'konsep' franchise

Sekarang,
Cak To tetap menjadi penjual bakso keliling,
Cak Man sudah mempunyai puluhan gerai franchise miliknya dan kini ia
tidak bekerja lagi.

Sekali lagi mana yang bermindset Pedagang, mana yang bermindset Pengusaha?

Dalam catatan perjalanan bisnis saya,
Selama 6 tahun saya bermindset 'pedagang' saya hanya fokus pada profit.
Saya tidak tahu berapa pertumbuhan bisnis saya tahun ini atau berapa
target pertumbuhan bisnis tahun depan. Blank. Yang penting jalan, enjoy
aja.... karena toh dari profit tersebut saya bisa membiayai kuliah saya
(waktu itu masih mahasiswa) dan juga untuk sedikit kebutuhan hidup
lainnya. Dan ternyata, setelah menginjak tahun ke-5 berdagang saya
rasakan mulai ada kejenuhan besar. Karena rutinitas sehari-hari hanya
itu-itu saja. Tidak ada tantangan yang berarti karena Visi bisnis tidak
ada. Mau ngapain lagi ya..?

Dalam masa 'berdagang' ini, saya sempat menjalankan 4 bisnis yang
berganti-ganti : Toko komputer, kursus komputer, web designer dan
programmer freelance. Dan bisa ditebak : semuanya berjalan dengan hasil
buruk! Karena tidak punya visi, semuanya jadi hambar. Sekedar untuk
mencari profit, tidak ada pertimbangan lainnya. Motivasi juga sering
loyo dan naik turun (banyak turun-nya). Hampir saja saya menyerah dengan
pindah kuadran ke Employee karena yang dipikirkan adalah profit yang
diterima sekarang jauh lebih kecil jika saya bekerja sebagai programmer
di perusahaan besar (mindset saya saat itu bercita-cita menjadi programmer).

Hingga pada pertengahan 2005, saat mental saya sedang down, saya
bergabung dengan banyak komunitas Enterpreneur baik skala lokal maupun
nasional. Saya banyak belajar dari mereka. Dan saya menemukan jawaban
yang saya cari selama ini : mengapa bisnis saya serasa hambar? Ternyata
karena saya tidak punya Visi!

Saya masih ingat betul bagaimana Pak Purdie mencerahkan mindset saya,
membuka pikiran saya dengan membedakan Pedagang dengan Pengusaha!
Ternyata yang saya lakukan selama ini masih bermindset pedagang, bukan
pengusaha.

Dan setelah itu, saya mempunyai pemahaman yang baru tentang berbisnis
dengan mindset Pengusaha. Saya mulai dengan menjalankan perusahaan yang
saya tekuni hingga sekarang ini.
Bagaimana dengan bisnis anda saat ini?
Saya yakin, anda sudah mempunyai Misi & Visi Bisnis yang jelas kan..?

--
Donny Kris P.
08123395276



New Email names for you!
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail.
Hurry before someone else does!

Tuesday, January 20, 2009

EBook "Rahasia" Itu Telah Dibuka


Ketika Pak Ibnu menanyakan soal EBook yang dijual oleh "Internet Marketer", secara mengejutkan Pak David me-replay dengan email sbb:

Mas Taufan n Mas Ibnu bisa coba search http://tokogratis.com/download/
u/ melihat beberapa files yang tersedia. Beberapa materi yang ditawarkan ada disana.

Coba pelajari lagi materi yang ada. Pasti akan ketemu satu titik benang merahnya.

Semoga bermanfaat.

David
0817-942-4859
021-93565769

Saya cukup surprise dengan link dari Pak David ini. Setelah saya cek beberapa file ebooknya, ternyata itu file-2 ebook yang dijual di beberapa website "EBook Rahasia", sebagai contoh ebook Formula Bisnis, itu yang dijual oleh www.formulabisnis. com, sebagai contoh salah satu "Internet Marketer".

Saya coba search, ternyata sekarang sedang terjadi KAMPANYE diantara para blogger untuk memperbaiki citra Internet Marketing di Indonesia. Anda bisa lihat di blog :

http://bisnisintern et.cosaaranda. com/

http://www.zalukhu. com/bisnis- di-internet/ fakta-dan- mitos-penghasila n-dari-bisnis- online

dan yang lucu ada di http://www.ebooksam pah.co.cc/

Saya rasa ini semua bisa menjadikan kita belajar untuk bisa menilai semua hal secara obyektif.

salam "rahasia sukses"

rosihan_._,___



Importing contacts has never been easier..
Bring your friends over to Yahoo! Mail today!

Goal Seeker vs Goal Getter


"Goals are not only absolutely necessary to motivate us. They are
essential to really keep us alive." -Robert H. Schuller

Pada penghujung 2008 ini, alangkah baiknya jika kita mulai menentukan
kembali goal yang akan kita raih pada 2009 atau mungkin akan diwujudkan
dalam kehidupan kita. Berbicara soal goal dan tujuan hidup, di sinilah
kita bisa bedakan dua tipe orang. Orang yang pertama kita kategorikan
sebagai goal seeker, dan kedua kita sebut goal getter.

Goal seeker, adalah tipe orang yang selalu terus-menerus mencari goal.
Goal getter adalah tipe orang yang selalu berusaha mewujudkan goal yang
telah dicanangkannya. Semuanya memang berawal dan dimulai dari sebuah
proses yang namanya goal. Seorang yang belum memiliki goal yang jelas dan
spesifik dalam hidupnya haruslah memulai langkah pertamanya dengan
membuat suatu tujuan, yaitu menentukan apa yang sebenarnya mau diraih
dalam hidup ini.

Perilaku inilah yang sebenarnya kita sebut sebagai goal seeker. Goal
seeker biasanya memulai menemukan goal-nya baik dengan cara merenungkan
goal hidupnya, ataupun dengan memodel orang-orang yang telah berhasil
dalam pencapaian goal tersebut sehingga terinspirasi juga untuk mencapai
goal yang sama bahkan lebih. Siapa pun yang sukses, akan setuju bagaimana
goal memiliki peranan yang penting dalam kehidupan mereka.

Bahkan fisikawan Albert Einstein pun mengatakan, "If you want to live a
happy life, tie it to a goal, not to people or things." Ya, untuk
menghidupi kehidupan yang bahagia, tentunya harus mengikatkannya dengan
sebuah goal yang jelas. Namun, kehidupan tidaklah boleh berhenti hanya
pada tataran membuat goal saja. Itulah yang banyak dialami oleh orang
yang hidupnya mandek. Setelah seorang goal seeker menemukan apa yang akan
diraihnya, berikutnya dia harus bergerak menjadi goal getter. Dalam
proses menuju goal getter, seorang goal seeker biasanya harus melewati
banyak rintangan dan hambatan.

Di sinilah godaannya. Sering terjadi, para goal seeker jadi frustrasi,
menyerah bahkan akhirnya menyibukkan diri dengan terus-menerus mencari
goal yang baru, dan mengganti goal lama yang sebenarnya belum pernah
diusahakan sama sekali. Inilah titik kritis di mana kalau goal seeker
tidak mengalami transformasi menjadi seorang goal getter, waktu hidupnya
akan terus-menerus dipakai untuk mencari goal yang baru. Akibatnya,
setelah beberapa lama, entah beberapa bulan bahkan beberapa tahun, goal
seeker tidak menghasilkan apa-apa sama sekali. Mereka kelihatan sibuk,
tetapi pada dasarnya tidak menghasilkan apa pun (busy but not
productive!) .

Rasanya kita perlu mengingat kata-kata bijak dari co-writer buku The
Power of Focus, yakni Les Brown yang mengatakan "You must take action now
that will move you towards your goals. Develop a sense of urgency in your
life." Ya, diperlukan tindakan dan sesegera mungkin menjadi goal getter.
Ambillah tindakan yang makin mengarahkan Anda menuju goal. Bangun terus
sense of urgency dalam mencapai goal tersebut dengan melakukan transisi
menjadi seorang goal getter, bukan hanya berhenti pada bermimpi saja.

Jadi manusia langka Ada begitu banyak goal setter di dunia ini, tetapi
sedikit sekali yang bisa berubah menjadi goal getter. Jadilah bagian dari
manusia-manusia yang langka ini sehingga hidup Anda bukan hanya berisi
ilusi semata, melainkan juga betul-betul menjadi sebuah realita yang bisa
Anda nikmati, setelah Anda melewati berbagai rintangan di depan goal
tersebut. Dalam hal ini kita perlu belajar dari William Clement Stone,
salah satu orang terkaya di Amerika yang merajut hidupnya dari
mimpi-mimpi yang direalisasikannya sejak kecil.

Bahkan, dengan beraninya, untuk mewujudkan mimpinya, sejak kecil dia
nekat menjual koran di restoran. Tahukah Anda, pada masa itu, menjual
koran di restoran adalah hal yang tabu dan belum pernah terjadi
sebelumnya. Namun, dengan sikapnya yang persisten, ramah serta persuasif,
akhirnya diceritakan bagaimana William meluluhkan hati para pemilik
restoran untuk pertama kalinya mengizinkan seorang anak gembel menjual
koran di restoran mereka. Para pemilik restoran ini sama sekali tidak
menyangka bahwa akhirnya, anak gembel yang gigih dengan semangatnya ini
akan menjadi salah satu orang terkaya di Amerika yang memiliki bisnis
asuransi terbesar pada masanya bahkan menjadi penulis berbagai buku
tentang mental positif.

Dalam bukunya yang terkenal The Success System That Never Fails, dia
berkata, "To solve a problem or to reach a goal, you don't need to know
all the answers in advance. But you must have a clear idea of the problem
or the goal you want to reach." Dengan kata lain, William mengingatkan
para goal getter mereka perlu memiliki kejelasan yang sangat jelas,
spesifik dan detail tentang goal yang mau diraihnya. Semakin spesifik dan
semakin detail goal yang mau diraih bagi seorang goal getter, semakin
jelas dan memudahkan bagi seorang goal getter untuk meraih goal yang
telah ditentukannya saat mengalami transformasi dari goal seeker menjadi
seorang goal getter.

Bahkan, Anda mungkin pernah mendengar ada pepatah yang mengatakan, "A
goal properly set is halfway reached." Saat goal sudah ditentukan,
perjalanan seorang goal seeker menjadi goal getter hanya tinggal setengah
perjalanan lagi, tinggal membuat perencanaan- perencanaan dan
tindakan-tindakan yang akhirnya akan mengarahkannya menjadi seorang goal
getter. Berikutnya, untuk memulai realisasi goal yang telah ditentukan,
hal terpenting bagi seorang goal getter adalah menciptakan momentum.

Momentum, berarti mengambil sebuah tindakan, entah tindakan itu besar
ataupun kecil, tapi mulai melakukan aksi yang intinya membawanya semakin
dekat pada tujuannya. Tindakan itulah yang diperlukan agar mereka mulai
termotivasi untuk segera mewujudkan goal itu.

Benarlah sebuah kalimat bijak yang dikatakan oleh motivator nomor satu
dunia, Anthony Robbins. "The most important thing you can do to achieve
your goals is to make sure that as soon as you set them, you immediately
begin to create momentum. " Dalam rangka menciptakan momentum ini,
biasanya hambatan yang paling sering dialami oleh seorang goal seeker
adalah dalih (excuse) bahwa mereka membutuhkan dan mencari 'timing' atau
waktu yang tepat. Marilah kita percaya, waktu yang tepat itu tidak pernah
ada. Waktu yang paling tepat itu sebenarnya sekarang.

Marilah kita simak tip yang diberikan oleh Napoleon Hill, penulis buku
Think and Grow Rich yang mengatakan, "Don't wait. The time will never be
just right." Sekali lagi, waktu yang terbaik tentu saja sekarang.
Janganlah bermimpi bahwa akan ada waktu yang pas. Mulailah berani
mengambil langkah-langkah awal yang yang akan menuntun kita semakin dekat
dengan goal kita. Yang jelas, penyebab seorang goal seeker gagal menjadi
seorang goal getter adalah kurang atau tidak adanya tindakan untuk
merealisasikan goal.

Saya mengenal seorang sahabat saya yang punya rencana membangun bisnis
media sejak 5 tahun yang lalu. Sampai sekarang pun dia masih terus
mencita-citakannya. Itulah contoh goal seeker yang terus-menerus berada
di penantiannya. Jangan menjadi pribadi yang demikian. Marilah, mulai
saat ini jadilah seorang goal getter bukan sekadar goal seeker yang
selalu terus-menerus membuat goal. Jadikan 2009 menjadi tahun yang
spektakuler bagi Anda, bukan hanya karena banyaknya jumlah impian Anda
melainkan juga karena banyak impian Anda yang bisa terwujud!

oleh Anthony Dio Martin



New Email names for you!
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail.
Hurry before someone else does!

Monday, January 19, 2009

idak Ada Krisis, Yang Ada Hanya Mengubah Sudut Pandang





Apa betul saat ini tidak ada krisis ? ada, jelas didepan mata. Ekonomi global sedang redup, banyak PHK, mesin produksi terhenti, ekonomi melambat, konsumsi menurun, daya beli drop banget.


Tapi kita kita mendengarkan wejangan pakar bisnis/marketing, ternyata apapun kondisinya, mau ekonomi normal, bomming atau krisis, jawabannya sama. Apa itu ?

Saat Ekonomi Normal : ketika kita tanya apa strategi bisnis/marketing yang tepat untuk saat ini ? jawabannya tetap lakukan aktivitas bisnis/marketing. Kondisi ekonomi yang normal ini akan makin tumbuh segera. Lakukan dengan dahsyat, jangan lakukan secara normal. Tunjukkan diferensiasi Anda dintara kompetitor Anda yang saat ini normal-normal saja. Jika saat normal saja Anda bisa menguasai pasar, nanti saat booming Anda tinggal memetik keuntungannya yang dahsyat...dst

Saat Ekonomi Booming : ketika kita tanya apa strategi bisnis/marketing yang tepat untuk saat ini ? jawabannya lakukan aktivitas marketing lebih dahsyat. Ambil dan kuasai momen booming ini, raih pencapaian penjualan dengan segera. Momen ekonomi booming kadang tidak lama. Perkuat tim marketing, perluas jaringan, raih pelanggan sebanyak-banyaknya, tingkatkan layanan pelanggan, dst ...

Saat Ekonomi Lesuuu/krisis : ketika kita tanya apa strategi bisnis/marketing yang tepat untuk saat ini ? jawabannya lakukan aktivitas marketing lebih dahsyat. Ketika kompetitor Anda mulai mengurangi budget iklan, mengurangi aktivitas penetrasi pasar, saatnya Anda terus invest, terus melakukan aktivitas marketing yang dahsyat. Karena ketika ekonomi recovery, Anda sudah siap. Lihat siapa-siapa saja mereka yang unggul saat ini, adalah mereka yang pada saat krisis 1998 tetap melakukan investasi, melakukan aktivitas marketing, sehingga brand-nya sangat kuat saat ini, produknya sangat dikenal, karena semua kompetitornya saat itu (1998) sedang tiarap.

Jadi APA YANG BERBEDA ? TIDAK ADA !!! Para pakar bisnis/marketing, anjurannya SAMA !! TETAPLAH INVESTASI dan LAKUKAN AKTIVITAS MARKETING YANG DAHSYAT !!

Ternyata kita hanya diminta untuk mengubah SUDUT PANDANG aja ....

salam sukses
rosihan
www.saqina.com

Saturday, January 17, 2009

Mulailah dari yang terkecil, mulai dari yang termudah, dan mualilah dari sekarang

“Mulailah dari yang kecil, mulai dari yang termudah dan mulailah dari sekarang”


Saya seneng sekali dengan tagline diatas, very-very-very Inspiring menurut saya. Bahkan perusahaan otomotif yang raksasa, Toyota pun selalu mengaplikasikan hal ini, dan lihat saja sekarang perusahaan otomotif yang tertua di Amerika sana pun sebentar bisa di geser dominasinya oleh Toyota. Perusahaan segede mbahnya gajah itupun ternyata mengaplikaskan (Mulailah dari yang kecil, mulai dari yang termudah dan mulailah dari sekarang)ini.

Saya pernah menjadi jadi ujung tombak sebuah project team, dan goal-nya adalah bagaimana kita mudah memanage Asset Perusahaan.

Sekedar gambaran saja, jumlah asset di perusahaan itu, misalnya untuk Company yang di Indonesia saja jumlahnya bisa sampai puluhan ribu Asset (kalau nilai 1 asset terkecil saja misalnya 5 juta, dan yang gede bisa puluhan Milyar seberapa besar nilai uangnya ya...hehehe..). Ada sekian ribu mesin las, sekian ribu komputer, sekian ratus gedung, sekian ribu mesin2 yang lain.
Setiap tahun perusahaan harus membuat laporan keuangan yang akurat, artinya laporan asset harus akurat, ditambah lagi yang namanya Asset itu juga terkait erat dengan pricing untuk menentukan harga sebuah mobil.

Agar laporan asset itu akurat, maka harus ada pengecekan fisik asset di lapangan dan harus matching dengan yang ada di buku nya orang keuangan, padahal yang namanya Asset banyaaaa...kk sekali yang bergerak setiap tahun, pindah mesin ini kesana, beli mesin baru buat project ini, bikin pabrik baru, kirim asset ke perusahaan toyota yang lain, membuang asset yang tidak berguna..dll..dll...

Sementara di perusahaan lain, misalnya di sebuah BUMN tempat saudara bekerja, mengecek asset yang tidak sebanyak itu, dia membutuhkan waktu hampir setahun untuk menghitung asset2nya dengan benar dan akurat, artinya ketika menghitung asset yang terakhir, maka sudah saatnya harus menghitung asset yang pertama lagi...pusing kan..?

Ada IDE GILA..!
"Saya mau agar proses ngitung assset ini targetnya 2 hari bisa rampung, dan tahun berikutnya 1 hari bisa rampung, dan tahun berikutnya cukup 2 jam..!" Kata bos Jepang .
Perintah gila kan...? Di Indonesia saja bisa setahun ngitung asset, si bos ini maunya ngitung asset 2 jam rampung, yang bener saja bos..pikir saya ketika melihat action plan salah seorang temen saya di Jepang.

Dan ajaibnya, beberapa tahun kemudian target itu hampir tercapai, ketika itu saya bisa melihat asset puluhan ribu itu bisa di laporkan denga akurat hanya dalam waktu setengah hari..!
Dan tahun 2004 saya di berangkatkan ke Jepang dan salah satu tugas saya adalah bagaimana mengaplikasikan hal itu ke Indonesia, dan dari situlah saya mengenal “Mulailah dari yang kecil, mulai dari yang termudah”
Awalnya saya bingung harus mulai dari mana belajarnya, pasti akan banyak buku aneh-aneh berbahasa kanji, atau bahasa Inggris dan saya harus membaca buku-buku yang tebal itu, atau saya di suruh setiap hari di kelas mendengarkan kuliah sebagaimana orang traninning pada umumnya...

Ternyata dugaan saya keliru..!

Oleh sang guru saya diajak ke pabrik, ke lokasi yang kecil, dan disana saya dipertemukan dengan kepala group yang membawahi beberapa orang di lapangan.
“Hadi san, semuanya dimulai dari sini, dari tempat kecil dan sederhana ini. Kalau Hadi san bisa memanage asset yang jumlahnya puluhan ini, maka kamu juga bisa memanage asset yang tidak terkira banyaknya”

Saya garuk-garuk kepala...kalau Cuma mesin las sekitar 50an seperti ini sih 30 menit sampai 1 jam juga rampung..pikir saya.

“Bisa nggak Hadi san ngitung asset in dengan akurat dan di kasih waktu 3 jam..?” Kata Sensei (guru) saya.
“ Haik, Dekimasu...kore wa kantan desu (bisa dong, itu mah sederhana Oom..) “ kata saya dengan senyum lebar
“1 jam bisa” katanya
“Bisa dong , 30 menit juga bisa” Kata saya
“ 15 menit..?
” Bisa, sendirian kah..? Kalau kerja keras masih memungkinkan “ kata saya..
“60 detik bisa”“Dekimasen desu..(enggak bisa Oom..mana mungkin)” emang ngecek asset sama kayak sprint pikir saya...

“Kalau kamu sudah bilang tidak mungkin maka kamu tidak pernah akan berusaha, padahal kita bisa lebih cepet dari itu loh...30 detik (Nah loh..)” katanya...

“Menghitung 50an assset bisa 60 menit, apakah apakah sensei ngecek asset sambil lari-lari kenceng.?” kata saya..

“Siapa bilang harus one by one, nih cukup jalan saja ke papan itu, dan saya cek saja papan asset itu, setiap ada pergerakan asset alamatnya selalu di update dan saya percaya akurasi data itu sama seperti akurasinya komputer di Bank tempat saya menyimpan uang” katanya

“Dan saya hanya butuh waktu 30 detik untuk mengecek akurasi assetsaya, dan silahkan kamu counter cek dengan yang di lapangan secara sampling, berapapun Hadi san mau ambil sample...akurat apa enggak” katanya.

Saya coba-coba cek, dari asset gede di depan mata sampai asset yang terkecil di kolong-kolong....ternyata semua akurat bo..!
Pantes saja mereka bisa pamer kalau ngitung asset di Jepang yang puluhan ribu setengah hari selesai, bahkan mungkin sekarang bisa bener-bener 2 jam sesuai target mereka.
“Gimana bisa begitu sensei..?” sambil garuk-garuk kepala karena takjub...
“Mulailah dari yang kecil, mulai dari yang termudah” lagi-lagi ngomong begitu doi...
Mulainya dari sini, katanya “Buatlah peta tempat yang ukurannya 20x20 meter ini, buatlah gambar-gambar dimana asset2 itu berada, buatlah aturan (rule) kalau ada mesin baru masuk atau keluar dari area ini maka peta harus di update“

“Area kecil ini adalah percontohan, kalau sudah sempurna petanya, aturan-aturan mainnya selesai, maka ajarkan ini kesemua operator-operator yang ada di lapangan, bagi mereka pekerjaan ini sederhana dan menyenangkan, karena mereka pasti mengenal betul ada mesin-mesin apa di sekitar mereka”

“Kalau mereka sudah tahu caranya, mintalah kepada kepala group agar menjadikan ini sebagai bagian pekerjaan mereka dan kepala group, spuervisor dan manager menjadi penanggung jawabnya”
“Proses menduplikasikan apa yang sudah baik di area 20x20m yang kecil ini ke area 20x20m yang lain, terus yang lain agi, yang lain lagi..ini disebut YOKOTEN”
“Jadi...sudah tahu ya.. Mulailah dari yang kecil, mulai dari yang termudah, lalu improve-improve sampai bagus, sampai di dapat model yang bagus, dan duplikasikan, dan tidak sampai 2 tahun area pabrik kamu seberapapun gedenya juga bisa selesai, dan setelah itu kamu mudah dan enak melaporkan data asset yang akurat dan tidak sampai 1 hari selesai.!” Kataya mantap..

“Haik..wakarimashita..(Yes bos..saya faham dan mengerti).!” Kata saya.

Begitulah ceritanya..dan cerita ini akan bersambung, dan akan menarik sekali. Karena saya akan bercerita secaram langsung dari lapangan tentang perjalan saya dan perjalanan orang-orang di sekitar saya yang sedang “Memulai dari yang kecil dan memulai dari yang termudah”
Hanya bedanya topiknya bukan lagi menghitung asset, tapi topiknya adalah tentang perjalanan bisnis, dan sebagian orang umumnya akan memulai bisnis setelah mereka memiliki modal, artinya mereka MENUNDA BELAJAR karena menunggu modal.

Apakah yang seperti ini bener..? Bisa jadi bener...tapi ingat selain modal ADA VARIABEL LAIN yang perlu juga anda pertimbangkan, yakni WAKTU..! belum lagi embel-embel yang lain , macam takut, khawatir dll
Ya..something yang tidak kelihatan ini tanpa kita sadari ternyata justru garis batas yang sesungguhnya...modal anda gede, tapi kalau dapetnya 20 tahun lagi setelah anda pensiun dengan sisa waktu produktif hanya 5-10 tahun apa ya bisa..? Apa ya anda mau belajar dari awal..? Apa ya anda mau baca-baca buku..?Apa anda mau blusukan ke pasar..? (Bonus akhir saja oleh istri dibeliin furniture dan ranjang 5 juta engga pake mikir..mo buat bisnis kok takut...heheh)

Kalau anda tidak yakin, maka mulailah dari sekarang, sejak anda membaca tulisan ini. Lah saya belum punya modal gede, belum punya ruko, belum punya uang buat sewa..?
Mulailah dari yang kecil, dan mudah...manfaatkan 1-2 juta uang yang anda miliki saat ini buat belajar, maanfaatkan mobil pasif anda, maanfaatkan garasi anda, maanfaatkan toko nganggur saudara anda, maanfaatkan sebagian kecil teras anda, maanfaatkan motor anda...

Nantikan cerita menarik sambungan dari tulisan panjang ini, saya akan menceritakan bagaimana saya membuat outlet-outlet yang saya sebut Hasuko Distro, yakni Distro Peralatan tidur yang saat ini masih berupa prototype seperti cerita area 20x20m diatas.

Cerita ini akan saya tulis di blog ini, baik ketika ada WINNING maupun ada OOPS secara langsung, saya tidak tahu persis apakah Distro itu nantinya akan menjadi besar dan bener-bener tersebar di seluruh penjuru tanah air dan negara tetangga seperti bayangan di kepala saya saat ini..? Wallahu A’lam, yang pasti saya akan berusahan menikmati perjalanan ini....meski saat ini di seputar saya toko-toko dan mall-mall yang gede seperti yang saya bayangkan sudah banyak bertebaran..tapi justru disitulah seninya....Speed & Creative...itulah kuncinya..

“Mulailah dari yang kecil, mulai dari yang termudah dan mulailah dari sekarang”

Nantikan tulisan berikutnya

Enjoy your business adventure..!

Hadi Kuntoro

NB:
Setahun yang lalu, seminggu sebelum saya resign, saya pernah berguru kepada seseorang untuk bisa pede ngomong, dan pede gaul, dan pede apa saja...sampai tebal muka..heheh...(Lihat kisah ketika saya belajar bersama beliau di LINK :6 Hari Menjelang Resign) dan yang surprise guru saya itu sekarang juga sedang “Memulai hal yang kecil dan mudah juga” ssst....beliau ikutan menjadi agen selimut Jepang Juga, meskipun saat ini beliau sudah punya kantor di Suite yang tinggi banget....Hallo Pak Guru, semoga anda membaca note ini....selamat berjuang Pak Guru..!

Friday, January 16, 2009

Bagi Habiebie Impossible is nothing

Habibie <http://habibieafsya h.com/>, namanya terasa akrab di telinga saya.
Bukan, bukan karena nama ini mengingatkan saya kepada sosok orang besar yang
pernah memimpin Indonesia dengan cukup sukses walau pun hanya sebentar.
Bukan. Nama ini bukan merujuk ke orang itu.

Saya pernah mendengar namanya disebut-sebut oleh Pak Tung Desem Waringin
dalam seminarnya.

Kali kedua saya mendengar kembali nama itu. Tepatnya hari Sabtu lalu, saat
diundang menjadi pembicara dalam seminar kewirausahaan yang diadakan oleh
EInvest, sebuah komunitas bisnis yang dirintis oleh para alumni UI, di
Auditorium FTUI Depok.

Pembicara setelah saya adalah Habibie (www.habibieafsyah. com). Siapa
Habibie? Dari tulisan yang sempat saya lirik di tangan pembawa acara,
tertuis dia adalah seorang internet marketer yang sukses.

Saat saya berpamitan dengan panitia, Habibie datang bersama rombongan dari
Bandung. Ia diantar oleh keluarga dan teman-temannya.

Yang mana Habibie? Rupanya ia adalah sosok yang duduk di kursi roda itu.
berbaju abu-abu, ia duduk dengan tangan dan kaki terkulai lemas. Habibie
lumpuh, begitu kesimpulan saya. Melihat dia, saya teringat dengan Stephen
Hawking, fisikawan jenius penemu teori Big Bang itu. Tapi Habibie bisa
berbicara, walaupun tidak begitu jelas.

Habibie ia adalah alumni Global Internet Summit yang diadakan oleh TDW
Resources. Ia adalah salah satu alumni yang sukses mempraktekkan ilmu dari
seminar itu.

Saya kagum dan terinspirasi dengan anak muda yang saya perkirakan baru
berusia 20-an ini. Baginya tidak ada yang tidak mungkin. Impossible is
nothing, seperti kata iklan Adidas (?).

Keterbatasannya itu membuatnya fokus dan berkonsentrasi kepada
kemungkinan- kemungkinan yang bisa dilakukannya. Ia bisa pakai laptop dan
bisa mengakses internet dengan keterbatasan ini. Dan ia melakukannnya dengan
sukses, artinya mencetak uang dari laptopnya.

Kedatangannya, memperlambat langkah saya keluar dari auditorium. Materi
seminar yang saya berikan dengan begitu bersemangat dan antusias terasa
'hambar' ditelan kharisma sosok Habibie. Ya, saya mencetak semua prestasi
bisnis itu dengan kondisi tanpa kekurangan apa pun. Saya sehat wal afiat,
bebas bergerak ke mana pun saya suka. Sedangkan Habibie? Dunianya hanya
selingkar yang bisa dijangkau oleh kursi rodanya.

Seorang anak muda dengan penampilan cukup ganteng dan tinggi mendekati saya
dan menyodorkan sebuah buku tulis berisi tulisannya.

Saya baca tulisannya. Tertulis di sana bahwa ia merasa termotivasi mendengar
materi saya. Ia bertekad akan mencontoh apa yang saya lakukan.

Ia meminta saya untuk membaca dan membubuhkan tanda tangan di bagian bawah
tulisan itu.

Tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya.

Saya masih belum ngeh.

Setelah itu ia menuliskan sesuatu lagi. Ia meminta alamat dan nomor kontak
saya.

Saya baru tersadar. Ia tidak bisa berbicara.

Namanya Agung. Usianya 24 tahun. Ia juga adalah rombongan Habibie dari
Bandung. Rupanya Habibie telah merangkul teman-temannya yang memiliki
keterbatasan fisik untuk mengikuti jejaknya.

Habibie, Agung, saya sungguh malu dan terharu dengan kalian. Saya dengan
segala kelengkapan fisik ini merasa belum mengerahkan kemampuan dengan
maksimal.

Saya teringat dengan teman-teman saya yang masih suka berkeluh kesah dengan
segala kendala bisnis yang dihadapinya. Kurang modal, kurang ilmu,
persaingan ketat dan sebagainya kerap disebut sebagai alasan.

Saya mau kasih lihat kepada mereka. Ini lho Habibie. Lihatlah dia! Masih
maukah anda mengeluh dan beralasan setelah melihat Habibie?

NB: Minggu lalu saya menonton Kick Andy dan bintang tamunya adalah Habibie.

Salam FUUUNtastic!

Wassalam,

Badroni Yuzirman

Susahnya Excuse di TDA

Assalamu'alaikum wr. wb.

Excuse adalah salah satu komponen dari BED (Blame-Excuse- Denial) yang
diajarkan Brad Sugar terkait dengan mental menyalahkan dan banyak alasan
untuk menutupi kekurangan kita.

Terutama sekali ketika kita tidak action atau gagal dalam bisnis, maka BED
ini pasti menghampiri. Blame pihak lain yang menjadi sebab, Excuse karena
kurang modal atau paling parah Denial bahwa diri kitalah sebenarnya yang
salah.

Terkait Excuse, di TDA sulit sekali melakukannya. Saya sendiri gak berani.
Contoh excuse belum action buka usaha umpamanya maka akan ada saja contoh
member TDA lain yg akan dengan segera mematikan dan mematahkan excuse
tersebut.

'Pantes si anu bisa bisnis, modalnya dari gaji karena jabatannya yg tinggi'.
'Loh pak ES itu modal nol loh bahkan minus karena punya hutang'.

'Pantes si fulan bisnis karena sebagai pegawai gajinya kecil banget'.
'Loh pak HK dan lainnya itu justru punya jabatan tinggi, anak buah banyak,
gajinya bisa buat beli motor saban bulan tapi ia mau bisnis dan bahkan sudah
resign'.

'Ya, pak R, AA dan FR kan orang IT jadi bisnisnya bisa didukung teknologi
tinggi'.
'Loh, bu AW, pak MA itu gaptek banget cuma mau belajar, ikut training
dan menjaga silahturahim akhirnya bisa bikin toko online dan sukses.

'Mana mungkin saya bisnis, PNS susah dapet modal, waktu dan udah aman'.
'Loh pak YH dan bu AW itu mantan PNS loh'.

'Saya kan udah tua'.
'Loh, pak H, pak AA dan lainnya itu udah diatas 55 dan ada yg baru mulai
bisnis, sukses juga'.

'Saya kan masih muda, masih kuliah'.
'Loh, mas AW, mas AS dan banyak lainnya mengawali bisnisnya dari kuliah dan
sukses'.

'Ngapain bisnis, orang tua saya kaya tujuh turunan'.
'Loh, mas Y dan AS itu bapaknya pejabat tinggi tapi mau bisnis'.

'Saya kan punya kekurangan fisik'.
'Anda pasti belum kenal mas Y dan adik H yang berkursi roda'.

'Saya tidak mendapat restu orang tua'.
'Pak HK juga pernah mengalami tapi strategi show me the money dan istiqomah
meluluhkan hati sang bunda'.

Dan begitu banyak alasan yang bisa diungkapkan. Anda mau berasalan ? Klo iya
jangan diungkapkan di TDA karena rasakan sendiri akibatnya hehe. Lebih baik
jika anda ditanya 'Mengapa belum action' jawablah : ada ddeeehhh :).

Wassalam.

-Eko June-

anda tidak perlu hebat untuk memulai
tapi anda harus memulai untuk menjadi hebat