Friday, January 16, 2009

Bagi Habiebie Impossible is nothing

Habibie <http://habibieafsya h.com/>, namanya terasa akrab di telinga saya.
Bukan, bukan karena nama ini mengingatkan saya kepada sosok orang besar yang
pernah memimpin Indonesia dengan cukup sukses walau pun hanya sebentar.
Bukan. Nama ini bukan merujuk ke orang itu.

Saya pernah mendengar namanya disebut-sebut oleh Pak Tung Desem Waringin
dalam seminarnya.

Kali kedua saya mendengar kembali nama itu. Tepatnya hari Sabtu lalu, saat
diundang menjadi pembicara dalam seminar kewirausahaan yang diadakan oleh
EInvest, sebuah komunitas bisnis yang dirintis oleh para alumni UI, di
Auditorium FTUI Depok.

Pembicara setelah saya adalah Habibie (www.habibieafsyah. com). Siapa
Habibie? Dari tulisan yang sempat saya lirik di tangan pembawa acara,
tertuis dia adalah seorang internet marketer yang sukses.

Saat saya berpamitan dengan panitia, Habibie datang bersama rombongan dari
Bandung. Ia diantar oleh keluarga dan teman-temannya.

Yang mana Habibie? Rupanya ia adalah sosok yang duduk di kursi roda itu.
berbaju abu-abu, ia duduk dengan tangan dan kaki terkulai lemas. Habibie
lumpuh, begitu kesimpulan saya. Melihat dia, saya teringat dengan Stephen
Hawking, fisikawan jenius penemu teori Big Bang itu. Tapi Habibie bisa
berbicara, walaupun tidak begitu jelas.

Habibie ia adalah alumni Global Internet Summit yang diadakan oleh TDW
Resources. Ia adalah salah satu alumni yang sukses mempraktekkan ilmu dari
seminar itu.

Saya kagum dan terinspirasi dengan anak muda yang saya perkirakan baru
berusia 20-an ini. Baginya tidak ada yang tidak mungkin. Impossible is
nothing, seperti kata iklan Adidas (?).

Keterbatasannya itu membuatnya fokus dan berkonsentrasi kepada
kemungkinan- kemungkinan yang bisa dilakukannya. Ia bisa pakai laptop dan
bisa mengakses internet dengan keterbatasan ini. Dan ia melakukannnya dengan
sukses, artinya mencetak uang dari laptopnya.

Kedatangannya, memperlambat langkah saya keluar dari auditorium. Materi
seminar yang saya berikan dengan begitu bersemangat dan antusias terasa
'hambar' ditelan kharisma sosok Habibie. Ya, saya mencetak semua prestasi
bisnis itu dengan kondisi tanpa kekurangan apa pun. Saya sehat wal afiat,
bebas bergerak ke mana pun saya suka. Sedangkan Habibie? Dunianya hanya
selingkar yang bisa dijangkau oleh kursi rodanya.

Seorang anak muda dengan penampilan cukup ganteng dan tinggi mendekati saya
dan menyodorkan sebuah buku tulis berisi tulisannya.

Saya baca tulisannya. Tertulis di sana bahwa ia merasa termotivasi mendengar
materi saya. Ia bertekad akan mencontoh apa yang saya lakukan.

Ia meminta saya untuk membaca dan membubuhkan tanda tangan di bagian bawah
tulisan itu.

Tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya.

Saya masih belum ngeh.

Setelah itu ia menuliskan sesuatu lagi. Ia meminta alamat dan nomor kontak
saya.

Saya baru tersadar. Ia tidak bisa berbicara.

Namanya Agung. Usianya 24 tahun. Ia juga adalah rombongan Habibie dari
Bandung. Rupanya Habibie telah merangkul teman-temannya yang memiliki
keterbatasan fisik untuk mengikuti jejaknya.

Habibie, Agung, saya sungguh malu dan terharu dengan kalian. Saya dengan
segala kelengkapan fisik ini merasa belum mengerahkan kemampuan dengan
maksimal.

Saya teringat dengan teman-teman saya yang masih suka berkeluh kesah dengan
segala kendala bisnis yang dihadapinya. Kurang modal, kurang ilmu,
persaingan ketat dan sebagainya kerap disebut sebagai alasan.

Saya mau kasih lihat kepada mereka. Ini lho Habibie. Lihatlah dia! Masih
maukah anda mengeluh dan beralasan setelah melihat Habibie?

NB: Minggu lalu saya menonton Kick Andy dan bintang tamunya adalah Habibie.

Salam FUUUNtastic!

Wassalam,

Badroni Yuzirman

0 comments: