Monday, March 30, 2009

Surat untuk Saudaraku

   Latar belakang:

Ada seorang pembaca blog saya, yang menyampaikan email tentang kefrustasian yang dia alami. Dia adalah seorang yg baru memeluk agama yg saya anut, yang usaha nya saat ini belum berjalan dengan baik, dan mulai kembali mempertanyakan keadilan Tuhan.

Posting ini, adalah reply yg saya sampaikan kepadanya, sudah saya edit supaya netral dan bisa dibaca semua khalayak.

Salam,

--
Fauzi Rachmanto

http://fauzirachman to.blogspot. com
http://www.facebook .com/people/ Fauzi-Rachmanto/ 725399728

============ =========

Saudaraku ...

Saya dapat memahami perasaan Anda. Sesungguhnya bukan hanya Anda, saya pun dahulu juga telah mengalami ujian yang sama. Berusaha dan belum berhasil, tidak punya uang, justru banyak hutang, sudah saya alami.

Padahal sudah membuat daftar impian, tujuan yang pasti, sudah membuat strategi, sudah berani mengambil tindakan … Nekat malah, karena saya melepas pekerjaan saya demi bisnis. Bukan keberhasilan yang diraih, namun justru kesulitan demi kesulitan. Pada waktu itu pun, saya merasakan rasa frustasi yang luar biasa.

Saudaraku …

Pertama-tama harus kita pahami tentang sunatullah, ketetapan Allah yang berlaku sebagai hukum yang berjalan di alam semesta ciptaanNya ini. Ketetapan ini berlaku tanpa memandang siapa pun pelaku nya. Misalnya: hukum grafitasi. Benda apapun, jika dilepaskan akan jatuh ke permukaan bumi. Siapapun yang menjatuhkan benda itu, apapun agama nya, bahkan atheis sekalipun, benda tadi akan jatuh ke permukaan bumi. Karena demikianlah sunatullah nya.

Sunatullah yang lain adalah, siapa yang ingin berhasil dan berupaya dengan sungguh-sungguh untuk mencapai nya, maka atas seizin Allah, keinginannya akan tercapai. Siapapun orangnya, apakah itu muslim, non-muslim, bahkan atheis sekalipun. Karena ini sudah merupakan sunatullah, sebagaimana hukum grafitasi. Maka saya tidaklah heran dengan keberhasilan Bill Gates ataupun Donald Trump, karena mereka memang melakukan usaha dengan sungguh-sungguh.

Lantas, mengapa ada orang yang sudah berusaha namun belum berhasil? Jika keberhasilan, sebagaimana grafitasi adalah sunatullah? Mengapa ini bisa terjadi? Pertanyaan nya adalah, betulkan ia sudah berusaha sesuai dengan cara-cara yang dilakukan orang yang berhasil? Jika belum, maka tentu saja dia masih belum akan mecapai keberhasilan. Sebagaimana kita melepas benda, namun benda tadi terikat dengan tali, maka hukum grafitasi bumi pun tidak bisa menarik benda tadi.

Lalu, bagaimanakah cara-cara orang yang berhasil itu? Keberhasilan orang-orang yang sukses dalam berbisnis itu meninggalkan jejak. Sehingga kita bisa mengikuti jejak-jejak tadi, untuk ikut mencapai kesuksesan.

Saudaraku, untuk memulai, sebagai tahap awal coba praktekkan beberapa sikap mental yang banyak kita temui pada orang-orang berhasil ini:

Ikhlas.

Orang yang berhasil, melakukan segala sesuatu dengan Ikhlas. Batin nya ikhlas, menerima apa yang telah Tuhan berikan untuk nya hari ini. Bahwa pasti ada kebaikan yang Tuhan semesta alam berikan hari ini. Sekalipun mungkin peristiwa hari ini "buruk" di mata kita. Karena buruk di mata kita, belum tentu buruk di mata Tuhan.

Alkisah, jaman dahulu kala, di sebuah kampung, ada seorang lelaki tua yang hidup dengan anak lelaki tunggalnya. Suatu ketika pemuda tadi jatuh dari kuda, dan kaki nya patah. "Malang benar nasib anakmu ..." Demikian kata orang kampung. Ternyata, keesokan hari nya, datanglah tentara kerajaan untuk mengajak seluruh pemuda yang sehat maju ke medan perang yang mengerikan, yang hampir dipastikan seluruh pemuda tadi akan pulang tinggal nama. Seluruh orang tua menangis meratapi nasib anaknya … Kecuali orang tua dari pemuda yang kaki nya patah tadi. Jadi sekarang siapa yang nasib nya malang?

"Kemalangan" ternyata hanyalah penilaian kita sebagai manusia yang lemah ini.

Jadi Saudaraku …. apakah hari ini usaha kita selalu gagal, banyak hutang, tidak punya uang? Saya yakin, pasti ada maksud baik Tuhan dari pengalaman kita hari ini.

Syukur.

Selain ikhlas, kita juga harus terima dan syukuri apa yang sudah kita alami dan miliki hari ini. Dan juga apa-apa yang sudah kita terima di masa lalu, dan apa yang akan kita terima besok.

Karena tidak ada guna nya batin kita menolak dan menyesali apa yang kita alami hari ini. Seringkali batin kita menjerit-jerit, "mengapa nasib ku seperti ini ….", namun hal ini malah akan memperkuat penderitaan kita. "What you resist persist ... "demikian pepatah kata. Makanya, orang yang mengeluhkan penderitaannya, biasanya penderitaanya semakin buruk. Yang mengeluhkan hutang, hutangnya makin banyak, yang mengeluhkan bisnisnya sepi, bisnisnya makin sepi, yang mengeluhkan tidak punya uang, uang nya makin sedikit.

Sebaliknya, orang yang bisa mensyukuri apa yang mereka terima hari ini, maka insyaAllah justru kenikmatan yang dia terima akan bertambah.

Jadi, saudaraku … Mulailah dengan mensyukuri apa yang saudaraku sudah miliki hari ini. Tidak hanya materi, namun juga kesehatan, cinta, pengetahuan, keluarga, dan sahabat. Banyak orang yang kaya materi namun tidak memiliki yang saya sebutkan tadi.

Lepaskan.

"Let it Go … Let it God". Kita diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Perkasa, Maha Kaya, Maha Bijaksana. Maka lepaskanlah kembali semuanya kepada Dia. Kembalikan semuanya kepada Dia. Biarkan Tuhan yang mengatur hidup kita ini.

Kadang kita merasa lebih tahu dan lebih pintar dari Tuhan. Bahwa hidup kita harus seperti yang kita "tentukan". Padahal Tuhan lah yang menentukan hidup kita.

Banyak kejadian sudah saya alami. Bahwa di satu titik kita menemui jalan buntu, ketika seluruh logika dan nalar tidak mampu lagi mencari penyelesaian, penyelesaian justru datang ketika kita pasrahkan kembali permasalahan kita kepada Allah.

Sedih karena ditolak calon pelanggan? Wajar, namun lepaskan kembali pada Tuhan, siapa tahu Yang Punya Hidup punya skenario lain, yaitu memberikan pelanggan yang lebih baik.

Amanah.

Amanah adalah selalu bisa dipercaya, menepati janji dan menunaikan tanggung-jawab. Seringkali kita tergoda untuk tidak amanah pada saat kita mengalami perjalanan hidup yang sulit.

Kepercayaan yang diberikan kepada kita, dengan mudahnya kita sia-sia kan, demi keuntungan sesaat. Seringkali demi uang yang jumlahnya tidak seberapa.

Kalau kita berhutang, maka kita wajib berusaha membayarnya. Dengan segala usaha yang kita mampu.

Saya juga pernah mengalami tidak mampu membayar hutang seperti saudara. Namun, saya berusaha dengan menemui pemberi hutang, dengan sikap yang baik, untuk membicarakan kembali jadwal pembayaran hutang saya.

Bahkan, saya juga pernah menawarkan barter, menukar hutang saya dengan keahlian yang saya miliki. Dan berhasil.

Yang penting adalah berusaha untuk amanah. Karena buah dari amanah, adalah nama baik dan kepercayaan, yang selama nya akan menjadi modal utama dalam bisnis kita. Donald Trump, misalnya, berhasil bangkit dari keterpurukan, karena nama baik nya dalam bisnis masih dipercaya investor.

Dan yang terakhir saudaraku, adalah ...

Memberi.

Berikanlah apa yang saudara sedang cari. Karena ia akan kembali dalam jumlah yang berlipat-lipat. Jika saudaraku mencari cinta, maka berikanlah cinta. Jika Anda mencari ilmu, berikanlah ilmu. Dan jika Anda mencari uang, berikanlah uang …

"Power of Giving" sudah dibuktikan oleh banyak orang. Dengan memberi, maka kita akan menerima. Bukan sebaliknya.

Maka, Bill Gates pun tidak ragu menyumbangkan lebih dari 28 milyar Dollar kekayaanya, dan apa yang terjadi? Bill Gates makin kaya, bukan tambah miskin.

Dua minggu lalu, saya mengalami sendiri hal ini. Saya memberikan sejumlah uang melalui transfer bank. Dan di tempat parkir mobil, masih di bank yang sama, saya menerima pemberitahuan dari staff saya lewat telephone kalau kami menerima order, senilai 100 kali lipat uang yang saya berikan. Kekuatan memberi benar-benar terbukti.

Demikian yang dapat saya bagikan saudaraku …

Sikap mental Ikhlas – Syukur – Lepaskan – Amanah - Memberi, ini telah menolong saya di masa-masa sulit dahulu, dam semoga bisa membantu Saudara mencapai apa yang dicita-citakan. Amin.

Salam,

Fauzi Rachmanto



Search. browse and book your hotels and flights through Yahoo! Travel

Thursday, March 19, 2009

Karena Semuanya Begitu Sederhana

Kesuksesan dalam terminology pengusaha seringkali bisa diartikan dengan

kepemilikan benda, tabungan dan asset – asset yang besar jumlahnya.,
atau pengembangan usahanya. Ada hal yang indah, yang begitu mengena
menyimak intisari dari apa yang disampaikan pembicara – pembicara di
Milad 3 TDA kemarin. Adalah Bob Sadino, maestro bisnis yang begitu
sukses tetapi pakaian favouritenya adalah hem dan celana pendek saja.
Adapula Lihan, seorang mantan pengajar Madrasah Aliyah yang suka
bersandal jepit, yang menjadi pengusaha kaya raya dengan nilau usaha
mencapai trilyunan, dan yang terakhir adalah Tung Desem Waringin yang
seorang Marketer kelas atas yang pernah menyebar uang jajan sebesar Rp
100.000.000, - secara Cuma – Cuma dari helicopter, yang sangat
menyukai kutipan Mark Joyner " The Immportant thing in business is
not Office, Mr. Hi-Tech or even the business or service, but an
offer".
Apa yang saya tangkap dari cara ketiga orang "sukses" itu
menyikapi kesuksesannya mengerucut pada satu hal yang ternyata sangat
menarik yaitu : kesederhanaan. Suatu waktu, Bob Sadino berujar bahwa
sukses baginya adalah bisa makan hari ini. Itu saja, sesimple itu.
Sementara Lihan, kita telah mendengarnya sendiri pengakuannya, beliau
tidak menyimpan asset. Untuk apa, katanya, toh asset dalam bentuk uang
maupun harta, akan segera habis kapanpun waktunya. Tidak menolong kita,
tidak pula dibawa mati. Sementara Tung Desem Waringin, begitu ringan
membawa marketing ke hadapan kita. Tidak ada satu hal yang begitu rumit
melihat cara TDW memandang marketing. Saya membayangkan, dalam
trainingnya, yang justru seringkali menarik audience adalah teriakan
"Ooooooooh…yesssssss !!!". Menurut anda, apakah itu istimewa
dan rumit?
Saya kemudian berfikir jika inilah yang membedakan mereka yang telah
sukses dengan orang kebanyakan. Daftar mimpi dan permasalahan orang bisa
saja terlalu panjang untuk diselesaikan, bahkan untuk dieksekusi.
Rasanya berat melangkahkan kaki keluar rumah, ketika berfikir di luar
sana akan panas, akan hujan, akan macet, akan bla bla bla bla……
Sementara bagi Bob Sadino, tidak ada hal yang ditakutinya karena yang
diingininya hanya bisa makan hari ini, kemudian bersyukur karena hal itu
dikategorikan "sukses" menurutnya. Bagi Lihan, harta yang
sedemikian banyak itu bahkan disikapinya dengan amat biasa. Saya begitu
trenyuh mendengar sandal jepitnya putus di sebuah hotel ketika bertemu
dengan Sandiaga S Uno. Begitu kecil dunia dan asset (baca:sukses)
dibanding kesederhanannya. Bagi TDW, memasarkan produk itu dilakoninya
dengan penuh kegembiraan dan kesenangan. Rasa – rasanya tidak ada
beban sedikitpun. Begitu simple caranya memikirkan pemasaran yaitu
dengan penawaran saja.
So, jika ingin seperti mereka, mungkin ada yang harus dirubah terkait
cara memandang kesuksesan. Dia amat sederhana, amat mudah ditemukan.
Seperti kita sukses melihat matahari di pagi yang terang dan cerah penuh
semangat, begitulah mungkin semestinya sukses bisnis itu dilihat. Begitu
mudah, alami, fun dan: sederhana.

Jadi, masih maukah anda "pusing dan ribet" dengan bagaimana
mencapai kesuksesan anda??? Bekerjalah, titik.

regards,

Lutfiel
http://speak2succes s.com
How much do you value your time?

YM : lelhakeem

__


New Email names for you!
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail.
Hurry before someone else does!

Pedagang vs Pengusaha

  Assalamu'alaikum wr. wb.


Sebuah tulisan menarik dari mas Donny Kris, komandan TDA Malang.
Di comot dari milis TDA Ngalam.

Wassalam.

-Sekretariat TDA-

Bila ada rekan yang berkunjung ke kantor, Saya paling sering mendapat
pertanyaan seperti ini :

"Mas Donny mulai berbisnis tahun berapa?". Entah kenapa ini adalah
pertanyaan favorit (mungkin ditanyakan karena usia saya masih muda kali
ya?), yang karena begitu favoritnya hingga saya kadang harus menjelaskan
panjang lebar.

Karena pertanyaan favorit (yang berulang-ulang) , sayapun sudah punya
'template' jawaban seperti ini:

'Saya memulai berbisnis (baca: jadi pengusaha) masih baru 3 tahun mas,
kira-kira tahun 2006-an'

Lalu pasti ada pertanyaan lagi seperti ini:
'Loh koq cepet banget mas perkembangan bisnisnya? hanya dalam waktu 3
tahun?'

Dan karena sudah ada template, maka saya lanjutkan dengan :
'Iya mas, masih 3 tahun menjadi pengusaha. Tapi sebelumnya saya sudah 6
tahun menjadi pedagang. Saya berdagang mulai tahun 2000-an mas'

Dan biasanya yang menanyakan pertanyaan favorit tadi ada sedikit rasa
kebingungan (biasanya saya amati dari perubahan bola matanya, atau
kerutan dahinya hehehe..).

Setelah itu, biasanya baru saya jelaskan panjang lebar...

Menurut saya (sekali lagi ini hanya menurut saya loh), untuk terjun ke
dunia bisnis sebaiknya kita perlu memahami kedua arti diatas : Pedagang
& Pengusaha. Suatu istilah yang mempunyai kemiripan, namun bagi saya
memiliki arti berbeda.

Di kampung halaman rumah ortu saya dahulu, ada seorang penjual sayuran
keliling yang telah 'berdagang' mulai saya TK hingga saya SMA. Berarti
kira-kira 14 tahun setiap hari dia keliling desa untuk menjajakan
sayurannya. Meskipun kebutuhan hidupnya tercukupi dengan menjual
sayuran, tapi tetap saja dia melakukan rutinitas (menjual sayuran) itu
hingga 14 tahun lamanya! Tidak ada peningkatan yang berarti dari tahun
ke tahun, karena mungkin saja dia (maaf) tidak memiliki visi yang cukup
bagus dalam 'bisnisnya'.

Pedagang, menurut saya adalah 'orang yang memperjualbelikan sesuatu
dengan tanpa visi jauh kedepan', atau bisa juga 'memperjualbelikan
sesuatu hanya berorientasi pada profit jangka pendek'. Mereka umumnya
berorientasi pada target jangka pendek. Misalnya, hanya sekedar
berdagang mencari untung, tanpa memperhatikan bagaimana target
pertumbuhan bisnisnya bulan depan atau tahun depan atau 5 tahun lagi,
atau bahkan jia dia meninggal apa bisnisnya masih bisa diwariskan atau
tidak.

Sedangkan Pengusaha, menurut saya adalah 'orang yang memperjualbelikan
sesuatu dengan visi jauh kedepan', atau bisa juga 'memperjualbelikan
sesuatu TIDAK hanya berorientasi pada profit jangka pendek'.

Jadi pembeda utama antara Pedagang vs Pengusaha terletak pada Misi Visi
bisnisnya.
Dan bukan terletak pada jenis bisnisnya.

Perhatikan contoh berikut ini:
Pak Arif dan Pak Aman sama-sama menjadi pengayuh becak 10 tahun yang lalu.
Setelah 3 tahun,
Pak Arif tetap mengayuh becak,
Pak Aman dari hasil kerjanya mulai membeli 1 becak lagi untuk disewakan.

Setelah 5 tahun,
Pak Arif tetap mengayuh becak,
Pak Aman menginvestasikan kembali hasil kerja plus hasil sewa becaknya
untuk membeli lebih banyak becak lagi, kini ia punya 10 becak yang
disewakan.

Setelah 10 tahun,
Pak Arif tetap mengayuh becak,
Pak Aman sudah tidak menjadi pengayuh becak karena ia bisa hidup dari
becak sewaanya...

Mana yang bermindset Pedagang, mana yang bermindset Pengusaha?

Ada contoh 1 lagi.
Cak Man dan Cak To adalah sama-sama penjual bakso di kota Malang sejak
15 tahun yang lalu.
Pada tahun ke-10,
Cak To tetap menjadi penjual bakso keliling,
Cak Man mulai merancang 'konsep' franchise

Sekarang,
Cak To tetap menjadi penjual bakso keliling,
Cak Man sudah mempunyai puluhan gerai franchise miliknya dan kini ia
tidak bekerja lagi.

Sekali lagi mana yang bermindset Pedagang, mana yang bermindset Pengusaha?

Dalam catatan perjalanan bisnis saya,
Selama 6 tahun saya bermindset 'pedagang' saya hanya fokus pada profit.
Saya tidak tahu berapa pertumbuhan bisnis saya tahun ini atau berapa
target pertumbuhan bisnis tahun depan. Blank. Yang penting jalan, enjoy
aja.... karena toh dari profit tersebut saya bisa membiayai kuliah saya
(waktu itu masih mahasiswa) dan juga untuk sedikit kebutuhan hidup
lainnya. Dan ternyata, setelah menginjak tahun ke-5 berdagang saya
rasakan mulai ada kejenuhan besar. Karena rutinitas sehari-hari hanya
itu-itu saja. Tidak ada tantangan yang berarti karena Visi bisnis tidak
ada. Mau ngapain lagi ya..?

Dalam masa 'berdagang' ini, saya sempat menjalankan 4 bisnis yang
berganti-ganti : Toko komputer, kursus komputer, web designer dan
programmer freelance. Dan bisa ditebak : semuanya berjalan dengan hasil
buruk! Karena tidak punya visi, semuanya jadi hambar. Sekedar untuk
mencari profit, tidak ada pertimbangan lainnya. Motivasi juga sering
loyo dan naik turun (banyak turun-nya). Hampir saja saya menyerah dengan
pindah kuadran ke Employee karena yang dipikirkan adalah profit yang
diterima sekarang jauh lebih kecil jika saya bekerja sebagai programmer
di perusahaan besar (mindset saya saat itu bercita-cita menjadi programmer).

Hingga pada pertengahan 2005, saat mental saya sedang down, saya
bergabung dengan banyak komunitas Enterpreneur baik skala lokal maupun
nasional. Saya banyak belajar dari mereka. Dan saya menemukan jawaban
yang saya cari selama ini : mengapa bisnis saya serasa hambar? Ternyata
karena saya tidak punya Visi!

Saya masih ingat betul bagaimana Pak Purdie mencerahkan mindset saya,
membuka pikiran saya dengan membedakan Pedagang dengan Pengusaha!
Ternyata yang saya lakukan selama ini masih bermindset pedagang, bukan
pengusaha.

Dan setelah itu, saya mempunyai pemahaman yang baru tentang berbisnis
dengan mindset Pengusaha. Saya mulai dengan menjalankan perusahaan yang
saya tekuni hingga sekarang ini.
Bagaimana dengan bisnis anda saat ini?
Saya yakin, anda sudah mempunyai Misi & Visi Bisnis yang jelas kan..?

--
Donny Kris P.
08123395276



New Email names for you!
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail.
Hurry before someone else does!