Thursday, April 30, 2009

Nama Selanhit, hidup Nyelekit , Gara-gara Hutang.

Berikut ini adalah diskusi di milis TDA yang saya rangkum tentang Hutang.

 

Dear TDAers,

Kita semua pernah mendengar bunyi pepatah orang Amrik: "Your good name is your reputation" nama baik anda adalah reputasi anda. Oleh karena itu kita wajib menjaga nama baik kita dalam semua aspek kehidupan termasuk pinjaman modal untuk memulai usaha.

Sekarang ini banyak sekali orang memulai usaha dengan berhutang, berhutang memerlukan kecerdasan financial sewaktu mengelola hutangnya, sehingga hutang yang dipinjam dapat kembali sesuai jadwal yang direncanakan. Namun karena satu ajaran yang keliru bahwa "banyak hutang itu mulia", "hutang bank dibayar oleh bank", sehingga pada awal berbisnis namanya mulai meroket... 1 kios menjadi 2 kios...menjadi 3 kios..terus sampai sekarang sudah 6 kios.... tapi sejalan dengan itu hutang juga membesar...

Omzet penjualan sudah mencapai milyaran rupiah... namun tetap posisi hutang masih lebih besar daripada income, diluar sana nama sudah hebat.. tapi didalam perusahaan masih banyak yang perlu ditata dan ditata ulang terutama menyangkut pengelolaan hutang perusahaan. Untuk kasus seperti ini maka saya rasa perlu bantuan konsultan perencanaan keuangan perusahaan.

Melihat fenomena ini, banyak penusaha TDA yang namanya selangit, hidupnya masih nyelekit. Hindari manfaat hutang seminimal mungkin, sebisa mungkin memulai usaha jangan berhutang kalau tidak yakin benar bahwa hutang itu bakalan produktif dan akan menghasilkan lebih banyak uang. Jangan menggali lonag...kemudian gali lagi lobang yang lebih besar... ini boleh dilakukan untuk memperbesar kapasitas produksi.

Nama selangit, hidup nyelekit, mana ada yang mauuuuu???

Salam penuh sukses, penuh berkah,
FMN.
Hp. 0812 110 23 28

 

dear om fadel.. tulisan yg penuh pelajaran..

jangankan yg hutang ke bank, yg model bagi hasil spt saya aja berasa nyesek
di dada klo profit gw sesuai estimasi..

rasanya pgn saya balikin dana investor itu seandainya saya ada dana nya..

apalagi yg modalnya utang ke bank ya? argo kan jalan terus?

krisis akhir2 ini memang banyak pelajaran berharga untuk kita2 ini..
ternyata butuh pondasi yg kuat untuk bisnis yg tahan banting di era krisis.

alhamdulillah warnet2 kami bertahan, sementara yg lain bertumbangan (krn
model hutang mungkin spt pak fadel bilang)
alhamdulillah ISP kami juga bertahan, sementara yg lain bertumbangan juga..

setelah saya perhatikan, perusahaan2 yg kuat itu ternyata di mulai nya dari
nol.
berdasarkan inspirasi itu, kini perusahaan kami memiliki jargon internal
"Back to Basic"..
memulai efisiensi, kemudian para owner turun kembali ke jalan..
dan proses ini benar2 kami nikmati.. luar biasa rasanya

kebetulan kemarin ikut bang jay yg berdiskusi tentang Sekolah Monyet nya.
teman diskusi nya (hehehe disebut namanya ga bos?) punya konsep lain ttg
pelatihan kewirausahaan yg menyertakan lembaga keuangan untuk pemodalan
untuk pebisnis baru.

Saya dan bang jay ga setuju, klo mau mulai bisnis ya harus modal sendiri. ga
ada modal? jual hp, tv, dll bisa dijadiin alternatif.

uangnya terlalu sedikit? ya memang cuma sgitu kemampuan kita.. ga usah
maksa2..
insya allah sudah cukup untuk menjadi milyarder dalam paling tidak 7thn
perjalanan bisnis..

trima kasih om fadel atas sharingnya

 

Adzan Wahyu

 

saya pernah mengalami hal yang sama pak, hanya dalam waktu 1 tahun saya dapat melipatgandakan dari 1 menjadi 3 kios bahkan 4 kios. Pada saat itu ada temen yang mengingatkan bahwa sebagai pengusaha pemula kita harus hati-hati, bisa "over heating". mendengar itu saya tidak terlalu menggubrisnya, karena saya merasa enjoy dengan kios-kios baru saya yang didirikan hasil hutang. Namun, beberapa bulan kemudian hal ini terbukti benar....perlahan saya menutup kembali beberapa kios yang pernah saya buka karena tidak sesuai dengan harapan. dan sekarang cuma meninggalkan satu kios "yang paling tua".
Setelah saya konsultasi dengan para pengusaha yang sudah lebih berpengalaman, ternyata prosesnya memang begitu, setiap pengusaha hampir pasti mengalami kemunduran setelah maju sangat pesat dengan membuka beberapa kios. sepertinya hal ini alamiah.
Sekarangpun saya sedang coolingdown, memberesi sisa hutang yang tersisa. Tapi semua ini merupakan pelajaran berharga buat saya, berbisnis butuh kesabaran, kehati-hatian, perhatian penuh dan kontrol terhadap keuangan dan karyawan, disamping tentu saja harus tepat dalam pemilihan lokasi usaha dan strategi dagang.

Hutang tetap mulia, sepanjang dikelola dengan baik dan benar, sesuai dengan peruntukannya. Terkadang kita melakukan mark-up ketika mengajukan pinjaman, padahal cara tersebut tidak sehat buat keuangan perusahaan kita.
Saya tidak phobi dengan usaha hasil hutang, karena saya-pun memulai usaha 100% modal pinjaman dan sukses...tapi seiring dengan perkembangan usaha, fokus dan kontrol terhadap perusahaan melemah dan terbagi....
So....kesimpulannya .....dalam setiap pengembangan usaha....berikan fokus dan kontrol thd cabang baru sama dengan atau lebih besar dibanding fokus kita pada usaha sebelumnya.

Salam sukses

 

Ade Hidayat

 

Saya jadi ingat perkataan rekan saya yang pengusaha IT.

Teamnya semula berjumlah 30 orang, tapi karena perkkembangan yang pesat beliau menambah teamnya hingga mencapai ratusan orang.

End result :
Omzet meningkat, sebanding dengan tingkat kerumitan manajemennya akan tetapi secara profit relatif sama dengan keuntungan team dia yang 30 orang itu, kenaikannya tidak terlalu signifikan.

Profit is King says Mr. Brad.
Menjadi besar itu belum tentu menjadi lebih baik..

 

Y. Gautomo



Importing contacts has never been easier..
Bring your friends over to Yahoo! Mail today!

No comments: